Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Bencana Terunik, Gempa Palu Seperti Pilih-piiih Tempat dan Korban

26 Okt. 2018, 21.49.37

Bencana Terunik, Gempa Palu Seperti Pilih-piiih Tempat dan Korban

Sulteng, SENTANA

DARI berbagi cerita dan obrolan dengan warga yang selamat dari gempa Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) dan para relawan sepakat menilai bahwa gempa Sulteng sebagai bencana alam terunik dan paling tragis dari yang pernah ada.

"Selama saya jadi relawan, belum pernah lihat dampak gempa yang seperti ini. Dampak empa seperti pilih-pilih tempat dan korban," kata Tony, relawan dari UNICEF kepada SENTANA, Jumat (26/10/2018).

Dari penelusuran SENTANA ke wilayah-wilayah terdampak gempa, suatu desa terkena dampak hebat dan tragis sementara di sekelilingnya aman-aman saja. Bahkan ada suatu desa di Donggala yang tidak merasakan adanya gempa, tidak tahu bahwa telah terjadi gempa di Palu saat kejadian.

Di Petobo misalnya, gempa berupa luapan lumpur dari dalam bumi menelan 1.500 rumah sementara persis di samping rumah mantan Bupati Donggala terdapat klinik umum yang tak terdampak sama sekali, bangunannya berdiri kokoh. Di klinik tersebut bahkan terdapat 50 bayi yang baru lahir selamat.

"Salah satunya warga kita. Umur 3 hari dibawa ke pengungsian oleh orangtuanya karena tak punya rumah yang aman untuk ditempati," kata Yaneke, warga Petobo, Baraloa, Palu kepada SENTANA, Jumat (26/10/2018).

Diceritakan Yaneke, saat gempa terjadi, sepulang kerja dari took pukul 17;00 dia pergi ke mall berbelanja baju. Saat hendak mencoba baju yang hendak dibeli, terjadi gempa. Yaneke laly berusaha lari keluar gedung namun tak bisa karena gempa sperti membanting orang ke kiri dank ke kanan.

Baca: ( Miris.Penjarahan Juga Sasar Harta Korban Bencana )

"Saya keluar took dengan cara merangkak dan merayap, saya lihat pengendara motor pada jatuh dan mobil bertabrakan. Setelah gempa tenang, saya pulang naik motor pelan-pelan tapi berhenti-berhenti 5 menit sekali karena ada gempa susulan," tuturnya.

Yaneke sampai di rumah tidak tahu ada bencana lumpur di samping komplek rumahnya. "Tiba-tiba ada air datang ke komplek perumahannya. Ia bersama warga lantas keluar rumah dan mencari tempat aman yakni tanah lapang di belakang komplek. Setelah air surut terlihat ada lumpur.

"Kita baru tahu desa Petobo yang terletak di atas pemukiman kami terjadi banjir lumpur dan sekitar 1.500 rumah terkubur lumpur. Kata orang, saya baru tahu kalau tempat itu dikenal sebagai Texas-nya Palu. Segala perjudian, prostitusi dan narkoba ada di situ," ungkapnya.

Apa yang dialamai Yaneke juga dialami Yanto, Faisal dan Ester warga setempat. Mereka menyelamatkan diri, mencari tempat aman dengan merangkak, terpental dan merayap mencari pegangan.

Di Jono Oge, 15 belasan siswa SMPN 2 Palu selamat karena terpental-pental hingga dapat berpegangan erat dengan sebuah pohon kelapa yang tumbang. Mereka diketemukan dan ditolong warga pukul 23;00 dalam keadaan bergelayutan di pohon tumbang sementara di bawahnya genangan lumpur.

Di Baraloa yang terletak di atas kota Palu terjadi bumi yang terbelah dan tanah amblas. Di sana menelan 538 rumah yang sebagaian besar amblas ditelan bumi. "Tanah buka tutup, itu rumah diangkat ke atas lalu dibanting ke bawah amblas dan itu tanah berputar-putar seperti diblender," kata ibu Fauzah warga setempat.

Baraloa diketahui sebagai komplek perumahan Perumnas. Uniknya pemukiman kota Palu yang ada di bawahnya tidak terdampak, begitupun bangunan lain yang ada di sekeliling lokasi. Santer terdengar kabar, di pemukiman tersebut banyak ditinggali kelompok radikal.

Yang paling unik adalah di kota Palu. Beberapa rumah yang letaknya berdampingan tampak mengalami nasib yang berbeda. Yang satu hancur lebur sementara yang satunya hanya retak kecil. Adapula yang struktur bangunannya biasa saja tak mengalami kerusakan, sementara yang bangunannya kokoh ambruk.

"Contoh nyatanya itu Hotel Roa-roa yang di situ banyak makan korban jiwa, di sampingnya berdiri gereja berdiri kokoh. Di hotel tersebut banyak korban yang menginap yang ingin mengikuti acara Nomoni," kata Yaneke.

Cerita Ester, yang juga warga Petobo, dirinya selamat dari banjir lumpur yang menelan rumahnya karena dirinya sedang berada di rumah orangtuanya. Sehari pasca gempa dia lalu membawa orangtuanya mengungsi ke Makasar.

"Pulang dari gereja saya kok jadi negokin mama dahulu. Baru tahu tempat tinggal saya ditelan lumpur 1 hari pasca gempa. Tidak ada korban jiwa di kelurga saya. saat gempa semua listrik mati, tidak ada sinyal handphone bikin kita tidak tahu lagi berbuat apa," ungkapnya.

Informasi dari beberapa warga yang selamat dari dampak gempa, yang dimintai keterangannya oleh SENTANA, terungkap pada saat gempa terjadi, saat berupaya mencari tempat aman, mereka memilih pasrah dengan diam di tempat sambil berpelukan menangis bersama dengan tekat kalau mati ya mati bersama-sama. Pasalnya, seperti taka da tempat untuk sembunyi.

"Lari ke bawah dikejar air tsunami, ke atas lumpur, kesamping bumi bergerak dan terbelah, akhirnya kita pasrah saja," kisah Ester yang beruntung selamat.

Di wilayah Kawatuna, yang terbilang jauh dari titik gempa, baik gempa tsunami, lumpur dan bumi terbelah berjalan terdapat beberapa rumah yang ambruk dan rusak. Di situ merupakan komplek perumahan BTN.

"Rumah kami aman tapi depan rumah kami lihat sendiri 3 ambruk, pun yang di belakang rumah," kata Olive warga setempat.

Baca JugaL ( Maksa Gelar Ritual, Walkot Palu Dituding Penyebab Bencana )

Wilayah Kawatuna di kenal sebagai wilayah menakutkan tempat pembuangan mayat. Sering terjadi perampokan pembunuhan di tempat itu. Warga di sana hingga saar ini tidak ada yang berani tidur dalam rumah mereka memilih tidur di luar bikin tenda di depan rumahnya.

"Ya kita masih trauma dan takut, makannya milih tidur di luar saja pakai tenda," kaya Olive yang rumahnya utuh tak terdampak gempa.

Hingga saat ini, Jumat (26/10), gempa masih sering terjadi meski kecil, goncangan terjadi setiap waktu dini hari, pagi pukul 10 dan sore pukul 16;00. (ARP)


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Workshop K-13 dan Pengarusutamaan Jender
Daerah
Pringsewu Lampung, Santananews.com Kegiatan workshop mandiri pembelajaran K.13 bagi pendidik anak usia dini tentang Kurikulum K...
​Pegawai Kantor Kecamatan Gunung Putri di Tes Urin
Daerah
Puluhan pegawai Kantor Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dites urine oleh petugas Badan Narkotika Nasional (...
Tobarani Award untuk Nuraeni, Sang Pemberani
Daerah
Tak banyak yang berani berhadapan dengan rentenir atau punggawa di desa nelayan Pattingalloang. Mereka berkuasa, menjerat nelay...
Korban Keracunan Nasi Kotak di Cigudeg Jadi 86 Orang
Daerah
Korban keracunan nasi kotak di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor hingga Selasa (13/11) dini hari terus bertambah...
Pelaku Penggembos Ban Ditangkap Polisi
Daerah
Lima pelaku pencurian kendaraan (curanmor) dengan cara gembos ban yang biasa beraksi di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, be...
Bupati Bogor Jadi Irup Peringatan Hari Pahlawan
Daerah
Bupati Bogor, Hj.Nurhayanti menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pondok Rajeg, Kab...
Pemkab Bogor Terima Hibah Tanah untuk ​Bangun Sekolah
Daerah
Pemerintah Kabupaten Bogor menerima hibah tanah seluas 4.777 meter dari salah satu warga yang juga tokoh masyarakat Kecamatan M...
​Pemprov Jabar Optimis Raih Anugerah Parahita Ekapraya
Daerah
Bupati Bogor, Hj.Nurhayanti mendampingi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil untuk menerima tim evaluasi Pengarusutamaan Gender un...
​Ketua PWI Kota Bogor Dikukuhkan Walikota Bogor
Daerah
Walikota Bogor Bima Arya mengukuhkan Arie Surbakti sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor terpilih periode...