Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Maksa Gelar Ritual Terlarang, Walkot Palu Dituding Penyebab Bencana

26 Okt. 2018, 22.31.36

Maksa Gelar Ritual Terlarang, Walkot Palu Dituding Penyebab Bencana

Palu, SENTANA

BEREDAR cerita di masyarakat Palu yang menuding Wali Kota (Walkot) Palu, Hidayat sebagai penyebab gempa tsunami berkekuatan 7,4 skala richter di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) karena menggelar ritual terlarang, yakni Balia di acara Palu Nomoni (Palu Berbunyi). Walkot memaksa acara tersebut padahal sudah banyak peringatan dan penolakan masyarakart, khususnya warga suku asli yang mengetahui persis tentang ritual terlarang tersebut

Diketahui, ritual Balia merupakan sejarah dan keyakinan masyarakat lokal yang bertujuan memanggil arwah. Ritual tersebut sudah lama ditinggalkan masyarakat Palu, namun oleh Walkot Hidayat dihidupkan kembali selama 3 tahun belakangan ini dengan tujuan agar Palu terdengar hingga ke luar negeri.

"Dahulu ritual tersebut tidak untuk dipertontonkan, hanya orang-orang tertentu yang boleh ikut tujuannya memanggil arwah. Memang benar terjadi Palu Berbunyi seperti yang diinginkan Wali Kota tapi bunyi gempa, benar arwah datang tapi dalam bentuk air tsunami yang kabarnya terdengar sampai ke luar negeri," kata Yaneke (46) warga Petobo, Palu kepada SENTANA, Jumat (26/10/2018).

Seperti diberitakan, acara Palu Nomoni digelar setiap tahun sejak 2016. Uniknya, dalam perayaan Festival Pesona Palu Nomoni selalu saja ada kejadian aneh dan badai angina yang selalu menelan korban jiwa, dan tahun ini (2018) adalah yang paling parah karena bencana gempa dan tsunami yang menghantam menjadi Palu Berbunyi gempa dan tangisan.

Baca Juga: ( Desa Jono Oge, Wilayah Terdampak Terparah Gempa Sulteng )

Percaya tidak percaya memang, Diceritakan Taneke kembali, atas dasar adanya kejadian-kejadian aneh di setiap acara Nomoni digelar itulah masyarakat menolak dan memprotes agar acara tersebut jangan digelar lagi.

"Namun pak Wali maksa, ya kita mau bagaimana lagi, tak berdaya nelawan penguasa. Sebelum acara itu digelar, beberapa komunitas agama melakukan ibadah memohon agar acara tersebut batal dan Tuhan tolong. Saya sendiri bersama teman-teman berdoa di pantai itu," jelasnya.

Menurut cerita masyarakat asli setempat, lanjut Taneke, ritual dengan mempersembahkan Kerbau sebagai korban tersebut memanggil 3 arwah yang dikenal dengan setan Opok-opok. "Itu mungkin makannya ada tiga titik gempa yang parah dan 3 jenis bencana yang terjadi yaitu; arwah bawa tsunami, tanah terbelah dan banjir lumpur," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Safudin, menurutnya sudah lama masyarakat Palu meninggalkan tradisi tersebut, namun entah kenapa dihidupkan kembali oleh sang Wali Kota. "dia (Walkot Palu) tengah didemo masyarakat agar turun. Saat gempa yang bersangkutan pun hilang entah kemana sampai 1 Minggu, mungkin takut diburu warga yang kesal atas keputusannya menggelar ritual terlarang itu," tuturnya.

Menurut Faisal, warga lainnya, sang Wali Kota dicari-cari warga pasca gempa terjadi namun yang bersangkutan bagai lenyap ditelan bumi tak diketahui keberadaannya, bahkan sempat beredar kabar sang Walkot meninggal dunia korban gempa, yang belakangan diketahui masih segar bugar.

"Bisa saja dihembuskan kabar meninggal dunia agar tak dicari warga yang sedang marah. Usai semua agak tenang menunjukan diri kembali," kata Taneke menanggapi hal tersebut.

Beredar informasi, pemerintah menyatakan korban meninggal dunia akibat gempa tersebut berjumlah 1.250 jiwa, namun oleh warga dibantah. "Yang terkubur hidup-hidup belum dihtung itu. Belum lagi yang terseret ke laut," tukasnya.

Diketahui, saat acara Palu Nomoni digelar, 100 siswa SMP tengah menampilkan tarian. Wali dan wakil Wali Kota usai membuka acara, 20 menit beranjak meninggalkan lokasi gempa pun terjadi. Diperkirakan ada 1.000 orang yang menghadiri acara tersebut dari masyarakat lokal, wisatawan nasional dan manca Negara.

Baca Juga: (Miris, Penjarahan Juga Sasar Harta Warga Korban Gempa)

Akibat gempa, di pantai ratusan orang dikejar air sementara di kedalaman kota dan pinggiran dikejar bumi dan lumpur. Hingga kini belum diketahui pasti jumlah korban jiwa akibat gempa Palu. Ada yang memperkirakan hingga saat berita ini diturunkan, korban mencapai 8.000 jiwa. (ARP)


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Workshop K-13 dan Pengarusutamaan Jender
Daerah
Pringsewu Lampung, Santananews.com Kegiatan workshop mandiri pembelajaran K.13 bagi pendidik anak usia dini tentang Kurikulum K...
​Pegawai Kantor Kecamatan Gunung Putri di Tes Urin
Daerah
Puluhan pegawai Kantor Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dites urine oleh petugas Badan Narkotika Nasional (...
Tobarani Award untuk Nuraeni, Sang Pemberani
Daerah
Tak banyak yang berani berhadapan dengan rentenir atau punggawa di desa nelayan Pattingalloang. Mereka berkuasa, menjerat nelay...
Korban Keracunan Nasi Kotak di Cigudeg Jadi 86 Orang
Daerah
Korban keracunan nasi kotak di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor hingga Selasa (13/11) dini hari terus bertambah...
Pelaku Penggembos Ban Ditangkap Polisi
Daerah
Lima pelaku pencurian kendaraan (curanmor) dengan cara gembos ban yang biasa beraksi di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, be...
Bupati Bogor Jadi Irup Peringatan Hari Pahlawan
Daerah
Bupati Bogor, Hj.Nurhayanti menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pondok Rajeg, Kab...
Pemkab Bogor Terima Hibah Tanah untuk ​Bangun Sekolah
Daerah
Pemerintah Kabupaten Bogor menerima hibah tanah seluas 4.777 meter dari salah satu warga yang juga tokoh masyarakat Kecamatan M...
​Pemprov Jabar Optimis Raih Anugerah Parahita Ekapraya
Daerah
Bupati Bogor, Hj.Nurhayanti mendampingi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil untuk menerima tim evaluasi Pengarusutamaan Gender un...
​Ketua PWI Kota Bogor Dikukuhkan Walikota Bogor
Daerah
Walikota Bogor Bima Arya mengukuhkan Arie Surbakti sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor terpilih periode...