Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​BPK: Harga Gas Tinggi Karena di Hulu Sudah Mahal

21 Sep. 2016, 13.01.17

​BPK: Harga Gas Tinggi Karena di Hulu Sudah Mahal

Jakarta, Sentananews.com

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan, penyebab tinggi harga gas bumi di hulu yang memberatkan sektor industri dalam negeri adalah akibat biaya eksploitasi gas BUMN di Indonesia cukup tinggi.

Hal ini dikatakan Anggota BPK Achsanul Qasasi di Jakarta, Rabu (21/9). "Yang membuat harga gas bumi mahal adalah karena biaya eksploitasi yang tinggi sekali di Indonesia dibanding negara lain," katanya.

Menurut dia, biaya eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) yang tinggi menyebabkan ongkos produksi pun menjadi mahal. Alhasil harga gas di Indonesia tinggi sekali yang memang memberatkan industri. "Biaya eksploitasi migas di Indonesia itu mencapai US$ 47 per barel padahal negara tetangga saja bisa tuh US$ 15 per barel," kata pemilik klub sepak bola Madura United ini.

Selain biaya eksploitasi, kata dia, sumur-sumur yang sudah tua, juga membuat bisnis tersebut menjadi tidak menarik. Belum lagi, menurut Achsanul banyak trader-trader yang mengambil untung tinggi dari bisnis gas bumi.

"Struktur biaya eksploitasi harus dibenahi. Sehingga hulu bisa murah karena 90 persen harga gas itu ditentukan dari hulu-nya. Belum lagi masalah trader yang berbisnis di sini jadinya rantai bisnis ini tidak efisien," tuturnya.

Pemerintah, sambung Achsanul harus turun tangan mengatasi masalah gas. Harus ada insentif bagi para investor untuk tertarik di bisnis eksploitasi gas. "SKK Migas harus berikan jaminan untuk bagaimana pebisnis tertarik di eksploitasi gas," katanya.

Seperti diketahui, industri dalam negeri mengeluhkan tingginya harga gas bumi yang mereka beli. Apalagi bila dibandingkan dengan harga gas di negara tetangga harganya jauh lebih mahal di Indonesia.

Menurut data Kementerian Perindustrian, harga gas bumi di Singapura hanya sekitar US$ 4,5 per juta British thermal unit (MMBTU), Malaysia US$ 4,47 per MMBTU, dan Filipina US$ 5,43 per MMBTU.

Sebenarnya, selain permainan calo gas, harga gas bumi di Indonesia memang sudah mahal dari asalnya alias dari hulu yang diproduksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikutip media, harga jual gas bumi sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sudah cukup tinggi yakni berkisar US$ 5-8 per MMBTU. Gas tersebut disalurkan oleh perusahaan yang mengelola pipa transportasi sampai distribusi hingga sampai ke pelanggan termasuk industri.

Berikut daftar harga gas hulu dari KKKS sebelum sampai ke industri:

1. Conocophillips (Pekanbaru) US$ 7,04 per MMBTU

2. Conocophillips (Sumatera Selatan dan Jawa Barat) US$ 5,44 per MMBTU

3. Ellipse (Jawa Barat) US$ 6,75 per MMBTU

4. Lapindo (Jawa Timur) US$ 7,649 per MMBTU

5. Pertamina EP Benggala (Medan) US$ 8,49 per MMBTU

6. Pertamina EP Sunyaragi (Cirebon) US$ 7,5 per MMBTU

7. Pertamina EP Pangkalan Susu (Medan) US$ 8,48 per MMBTU

8. Pertamina Hulu Energi (PHE) WMO (Jawa Timur) US$ 7,99 per MMBTU

9. Santos (Jawa Timur) US$ 5,79 per MMBTU

10. Lapangan Jambi Merang (Batam) US$ 6,47 per MMBTU

Bila membandingkan dengan harga gas bumi dengan negara tetangga, terlihat jelas bahwa harga gas di Indonesia sejak di hulu saja sudah lebih mahal dibanding harga hilir di Singapura, Malaysia dan Filipina. Untuk mengalirkan gas dari hulu ke konsumen menggunakan pipa transmisi (biaya angkut nya ditetapkan pemerintah) dan pipa distribusi gas bumi yang panjangnya berkilo-kilo meter hingga sampai ke industri. Tidak mengherankan, harga gas untuk industri di Indonesia berkisar US$ 9 - 10 per MMBTU.

Apalagi, dalam prakteknya selain sudah mahal di hulu pasokan gas bumi tersebut harus melalui trader gas bertingkat, yang menjual alokasi gas tanpa memiliki infrastruktur gas, seperti yang terjadi di Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal ini membuat harga gas industri menjadi lebih mahal.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, salah satu penyebab tingginya harga gas industri dikarenakan harga jual gas di tingkat hulu atau kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sudah cukup tinggi.

Penulis: Syarief Lussy


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Program Asuransi KKP Bantu Pengusaha Kecil Perikanan
Ekonomi
Program asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan berskala kecil merupakan kebijakan tegas untuk membantu pengusaha kecil sektor...
PLN Dapat Fasilitas Kredit dari KfW Jerman
Ekonomi
PT PLN (Persero) dan Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) Development Bank dari Jerman menandatangani perjanjian fasilitas kred...
​BPH Migas Ingin Perbaiki Pengelolaan Migas Nasioal
Ekonomi
Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Hari Pratoyo mengatakan, bahwa pihaknya ingin memperbaiki pengelol...
​Gempa di Selatan Jawa Tak Ganggu Suplai BBM & LPG
Ekonomi
Pasca terjadinya gempa di selatan pulau Jawayang terasa di beberapa kota Jawa Barat, Pertamina memastikan penyaluran BBM dan LP...
​Jaga Harga Garam, CIPS: Pemerintah Harus Impor
Ekonomi
Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi mengatakan, produksi garam nasional bel...
​Selama Nataru, Citilink Tambah 280 Ekstra Flight
Ekonomi
Maskapai berbiaya murah (LCC) Citilink Indonesia akan menyiapkan sedikitnya 50.400 kursi tambahan (extra seat) atau sebanyak 28...
BNP2TKI Sebut Remitansi TKI Turun 4 Persen
Ekonomi
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengatakan jumlah remitansi hin...
Jelang Natal, Pertamina MOR VII Tambah Stok LPG
Ekonomi
Manager Communication & CSR Pertamina MOR VII M Roby Hervindo mengungkapkan, pihaknya akan menyiapkan penambahan stok Elpij...
​BBPKH Beri Pelatihan Gangguan Reproduksi Hewan
Ekonomi
Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, memberikan pelatihan magang tentang gangguan reproduksi hewan ternak ke...