Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​Hapus Direktorat Gas Pertamina Hanya Akal-akalan Muluskan Akuisisi

11 Juli 2018, 0.14.35

​Hapus Direktorat Gas Pertamina Hanya Akal-akalan Muluskan Akuisisi

Jakarta, sentananews.com

Penghapusan Direktorat Gas di PT Pertamina (Persero) sebagai tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri BUMN Nomor 39/MBU/02/2018 tentang Pemberhentian, Perubahan Nomenklatur, Pengalihan Tugas Anggota Direksi Pertamina cacat hukum dan dinilai bertentangan dengan konsititusi.

Menurut Pakar Hukum Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Makasar, Juajir Sumardi, penghapusan Direktorat Gas di Pertamina condong ke arah politisasi dan hanya untuk memuluskan akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (GAS) terhadap PT Pertamina Gas (Pertagas).

Padahal di dalam PGAS terdapat saham publik yang mayoritas didominasi oleh kepemilikan asing. "Akibat SK Menteri BUMN tersebut, tata kelola gas nasional menjadi sangat rawan dimainkan oleh swasta termasuk asing," katanya kepada wartawan usai menjadi saksi ahli di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Selasa (10/7).

Padahal, kata dia, amanat UUD 45 Pasal 33 ayat 2 menyebutkan bahwa seluruh kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Indonesia dan harus dikuasai oleh negara. "Ternyata arah dari persoalan gas ini hanya untuk diserahkan kepada PGN, yang dalam hal ini diposisikan hanya sebagai anak usaha dari holding (migas)," ujarnya.

Jika sebagai anak usaha holding maka status hukumnya akan berubah bukan lagi menjadi BUMN tapi menjadi badan usaha milik swasta. "Akibatnya kontrol negara terhadap anak usaha ini menjadi tidak efektif dibanding apabila persoalan gas ini tetap diurus Pertamina. Ini pelanggaran," tukasnya.

Menurut Juajir, ada upaya akal-akalan pemerintah khususnya dari Kementerian BUMN untuk mengelabui rakyat dengan alasan efisiensi di tubuh Pertamina saat penghapusan Direktorat tersebut ditetapkan. Padahal semestinya Direktorat itu harus tetap ada karena faktanya kebutuhan gas merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak sehingga tidak bisa dikelola oleh perusahaan bukan BUMN .

"Ada indikasi arahnya adalah bagaimana untuk mengurangi potensi penguasaan dan pengelolaan Pertamina terhadap gas karena akan diserahkan kepada PGN, padahal PGN bukan menjadi BUMN. Seharusnya yang mengelola gas yang merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak adalah Pertamina bukan swasta," pungkasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengungkapkan, ke depan gas akan menjadi energi yang sangat strategis. "Dan selama ini pengelolaan bisnis gas yang strategis ini ada di Pertamina. Sebab selain menguntungkan, hal ini sesuai dengan konstitusional karena ini sektor strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak jadi harus berada di bawah BUMN," tukasnya.

"Jadi dengan dihilangkannya Direktorat Gas berarti ada pelanggaran terhadap konstitusi karena pengelolaan tidak lagi oleh BUMN tetapi oleh swasta," ketusnya.

Selain itu, kata dia, ke depan bisnis gas dan penggunaan gas secara global akan semakin meningkat. Pasalnya, banyak lembaga resmi energi seperti OPEC dan juga perusahaan-perusahaan migas besar di dunia seperti ExoonMobil, Shell, BP selalu menerbitkan kebutuhan energi ke depan. "Dari sana kita akan kita temukan bahwa penggunaan gas itu akan terus meningkat. Justru minyak dan batu bara yang turun. Ini memang sesuatu yang sangat signifikan dan strategis untuk dikelola oleh BUMN," paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, selama ini PGN hanya mengurusi soal downstream dan mainstream, padahal bisnis gas itu komporehensif mulai dari hulu sampai hilir. Jadi tidak hanya bicara soal downstream dan mainstream tapi juga upstream. "Dan itu strategis, lalu kenapa harus kita hilangkan dan serahkan kepada perusahaan yang selama ini hanya mengurusi downstream dan mainstream?" tanya dia.

Pada kesempatan itu, Marwan juga meminta kepada Pemerintah untuk membuat mapping tentang apa bisnis yang dikelola, kemudian fokus ke sana dan siapkan organisasi yang sejalan dengan kebutuhan di lapangan. "Jangan justru tidak sesuai antara kebutuhan dengan organisasi yang disiapkan. Saya kira ini yang sangat penting yang harus dipahamkan kepada masyarakat," tukasnya.

Masih menurut Marwan, akuisisi Pertagas oleh PGN juga bisa dianggap sebagai langkah privatisasi terselubung. bagaimana tidak, tadinya 100 persen saham dikuasai negara dan sebagai sektor strategis sudah sangat tepat dijalankan oleh Pertagas. Tapi dengan dimasukkannya Pertagas ke PGN maka tidak lagi menjadi perusahaan 100 persen milik negara. Sudah terjadi transfer saham kepada publik yang di dalamnya ada asing.

"Bagaimana bisa kita membiarkan sektor strategis yang dijamin oleh negara untuk dikelola oleh BUMN itu sebagian sudah dimiliki oleh asing. Karena di dalam PGN itu asingnya sekitar 80 persen dari 43 persen. Kalau seandainya 51 persen saham Pertagas itu dibeli oleh PGN, artinya saham asing sangat signifikan dan itu sama dengan pengkhianatan terhadap kosntitusi," pungkasnya.

Penulis: Syarief Lussy


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Tol Sumo Membagi Perasaan Mewah Warga Jatim
Ekonomi
Disaat Tol Surabaya–Mojokerto (Sumo) memasuki zona hitam. Jawa Timur membutuhkan Budi Pramono untuk menyelesaikan. Tol Sumo bak...
Keterlibatan Kontraktor Pulihkan TBBM Donggala Sangat Besar
Ekonomi
Terminal BBM (TBBM) Donggala yang mensuplai kebutuhan BBM wilayah Sulteng merupakan lokasi operasi Pertamina yang tak luput dar...
Perbanyak SPLU, PLN Gandeng Perusahaan Jerman
Ekonomi
PT PLN (Persero) menggandeng Produsen Mobil asal Jerman, BMW untuk membangun SPLU (Stasiun Pengisian Listrik Umum). SPLU merupa...
Kementerian PUPR Kirim Tambahan 96 Insinyur Muda ke NTB
Ekonomi
Sebanyak 96 orang insinyur muda para CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) d...
116 Unit Huntara untuk Korban Gempa Sulteng Siap  Dihuni Desember
Ekonomi
Pemerintah terus melakukan berbagai upaya dalam masa pemulihan kerusakan pascabencana gempa bumi yang disertai tsunami dan liku...
​Perang Tarif, Bisnis Taksi Online Jadi Tak Sehat
Ekonomi
Penerapan tarif yang terlalu rendah ditambah banjir promo dari penyedia aplikasi transportasi daring (Grab), berpeluang melahir...
​Pertamina Bangun Krestivitas Kerajinan Mebel dari Drum Bekas
Ekonomi
Sebagai perusahaan produsen pelumas nasional, PT Pertamina Lubricants turut berkontribusi terhadap pemeliharaan lingkungan baik...
Kementrian PUPR Tingkatkan Kualitas Jalan Lingkar Pulau Samosir
Ekonomi
Dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Stra...
Kementrian PUPR Selesaikan Rehabilitasi Empat DI Sistem Waduk Kedungombo
Ekonomi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Ditjen Sumber D...