Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Memaknai Tulang Punggung Infrastruktur di Usia 73 Tahun

4 Des. 2018, 13.59.32

Memaknai Tulang Punggung Infrastruktur di Usia 73 Tahun

Jakarta, sentananews.com

Dulu. Pengetahuan penulis tentang infrastruktur cuma terbatas pada cerita teknis. Yang menggambarkan jalan, jembatan, gedung, saluran air, atau pusat perbelanjaan.

Ketika pikiran-pikiran iseng harus diberi sesuatu untuk membuatnya sibuk, penulis pun berkeliling; menemui telinga-telinga para pedagang kecil, nelayan, petani, di kampung-kampung, di dusun-dusun, di mana hidup mereka sangat susah untuk ketemu dengan yang namanya kesejahteraan.

Dari perjalanan keliling. Inilah kesimpulan para akademisi. Dan orang-orang kecil yang sudah bertahun-tahun berurusan hanya dengan kebutuhan-kebutuhan paling sederhana. Mereka merupakan contoh hidup dari potensi kesadaran pertumbuhan, melalui infrastruktur.

"Di mana pun di dunia ini, pembangunan kota, pertumbuhan kota, bahkan pertumbuhan antar kota, itu sangat tergantung pada infrastruktur. Kalau infrastrukturnya jelek, maka pertumbuhan juga akan jelek," demikian Ir. Mudji Irmawan,MS., ahli struktur bangunan pada Fakultas Teknis Sipil dan Perencanaan- Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS).

Sebelum 2014, memang; betapa kaburnya gagasan tentang mengolah pertumbuhan. Bukan cuma untuk pertumbuhan ekonomi. Tapi juga gagasan untuk mengolah pembangunan infrastruktur secara politik, bahkan sosial budaya.

"Sebelum ada jalan seperti ini, dulu kami benar-benar sengsara. Untuk belanja barang dari rumah ke Daruba sekitar 17 kilometer, waktu itu kami butuh waktu berjam-jam. Sekarang cuma beberapa menit, karena jalannya bagus," akui Safriah (43), yang sehari-hari berdagang sembako, di Daruba, Kabupaten Morotai, Maluku Utara.

Tak salah lagi. Di belakang penerapan nilai pertumbuhan yang hakiki. Bahkan seember air, satu sekop semen dan pasir, ternyata memiliki dimensi yang berkaitan dengan waktu, tempat, pendapatan, dan sekian tenaga yang membanting tulang untuk mengerjakan jalan, jembatan, jalan tol, gedung, saluran air, pasar, hingga menjadi akses infrastruktur yang berkaitan dengan kebutuhan memperpendek biaya jarak dan biaya waktu dalam kerangka pertumbuhan.

"Bangsa ini kalau mau maju, itu harus jarak waktunya pendek, biaya waktunya pendek. Itu semua harus dikompress. Makanya, (tol) membantu di situ. Apalagi berkaitan dengan memajukan ekonomi dan industri. Sudah bukan jamannya lagi berlama-lama," jelas Andy Siswanto, mantan pembimbing mahasiswa S3 di Jerman, Inggris, Australia, ketika ditemui penulis di Semarang.

Hampir lima tahun sesudah pembangunan infrastruktur dikebut di Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Semenjak itu pula Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi tulang punggung infrastruktur.

Pada tingkatan paling mendasar, setidaknya menurut yang penulis temui seperti Safriah di pulau terluar di Morotai itu, hingga para akademisi; bahwa; semua pihak memiliki persamaan pandangan. Terutama motivasi mengutamakan Indonesia hebat, semenjak PUPR menjadi tulang punggung infrastruktur.

Tapi. Pada tingkatan berikutnya, pihak yang satu dengan yang lain berpisah. Musababnya antara lain karena kaburnya pandangan. Mulai dari soal jumlah alokasi pendanaan infrastruktur yang fantastis besarnya. Hingga sumber anggaran pembangunan yang tak sedap ditulis. Umpamanya, dari hutang, modal asing. Termasuk, tenaga kerja asing, yang sempat bikin banyak orang mengangkat alis.

Selanjutnya, pada tingkatan teratas. Semua pihak bertemu kembali. Dan tak kan ada lagi perpisahan, setelah mengerti bagaimana rasanya menjadi orang kecil, yang merindukan persatuan, sebagai tanggungjawab Negara melalui pemerintah.

Dalam konteks bertemu kembali dan tak kan ada lagi perpisahan, catatan ini sekedar meringkaskan gagasan dan perasaan akademisi. Juga orang kecil. Bukan untuk menyenangkan hati pembaca. Tapi menyampaikan fakta, tentang dampak dan manfaat infrastruktur yang hasilnya terus melebar secara amat mengagumkan.

Segera setelah kita berada di atas jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), umpamanya. Fungsinya bukan saja memperpendek biaya jarak dan biaya waktu dan karenanya pertumbuhan ekonomi. Tapi menjadi contoh secara politis, seperti diakui Andy Siswanto; "Pembangunan infrastruktur (seperti Suramadu) ternyata sangat mempersatukan bangsa," tegasnya.

Bukan kalimat-kalimat itu saja yang mengungkapkan makna pernyataan. Keberadaan jalan, jembatan, bendungan yang penulis lihat pun pun ikut berperan, untuk membongkar perasaan yang tadinya dihantui kurang berguna dan rendah diri. Lebih-lebih lagi peran pekerja infrastruktur, dalam mewujudkan bagaimana biaya jarak dan biaya waktu, diperpendek.

Kendati pun pemikiran pembangunan jembatan Suramadu sudah digagas sejak 33 tahun lalu. Faktanya, gagasan itu harus mewujud setelah melewati waktu yang panjang, sebelum akhirnya dioperasikan pada 2008.

"Perencanaan kota Surabaya sudah sedari dulu. Termasuk salah satunya menghubungkan kota Surabaya dengan Madura. Karena kita tetap butuh dukungan Madura. Dulu kalau kirim barang dari Madura, itu lewat laut. Ngantrinya lama sekali, kapal terbatas, dermaga terbatas. Pemikiran pembangunan jembatan Suramadu sudah digagas sejak Gubernur Muhammad Nur, pada 1975," kata Mudji Irmawan.

Ketika melihat Bendungan Rotiklot, di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), contoh lainnya, penulis mendengar Pius Mau (59), Kepala Suku Matabesi Umameo, sebuah suku terkemuka di Belu, yang berseru dalam kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

"Kami sangat berterimakasih kepada pemerintah, karena bendungan ini bikin hidup kami tidak akan susah lagi. Sebelumnya kami di sini sangat susah air," demikian Kepala Suku Pius Mau.

Kendati pun jembatan Suramadu dan bendungan Rotiklot adalah yang paling mungkin di sini, sebagai contoh tentang dampak dan manfaat infrastruktur secara ekonomis, politis, dan sosial budaya.

Namun suatu hal pasti sesudah penulis melihat bagaimana Balai-Balai, baik jalan atau sungai, harus melintasi batas-batas tradisional yang nyrais memisahkan agenda atau rencana besar bernama Indonesia hebat.

Nada seru dari seorang Kepala Suku, Pius, bagaimanapun memaknai tulang punggung infrastruktur. Di usia ke 73 tahun, yang berbicara dalam bahasa yang sampai ke suku-suku di pedalaman, yang lebih merasakan kehadiran PUPR, daripada mengerti pernyataan yang penulis kutip.

Sejatinya. Infrastruktur sebagai ibu pembangunan yang ada dalam pikiran kitalah, yang harus dihormati, bukan sekedar wujud lahiriah sebuah jalan, waduk, atau jembatan.

"Waduk, jalan, jembatan, sebaiknya dinikmati masyarakat. Jangan hanya untuk fungsi engineering saja. Tapi juga fungsi sosial, budaya, ekologi, yang mengeksplorasikan peradaban bangsa. Waduk-waduk perlu dimanfaatkan untuk wisata, untuk ruang publik. Begitulah pemikiran Pak Menteri Basuki," jelas Andy Siswanto.

Penulis, Luthfi Pattimura


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Harga dan Pasokan Pangan Jelang Nataru Stabil
Ekonomi
Menjelang hari raya Natal dan tahun baru 2019, Kementerian Pertanian memastikan bahwa ketersediaan konsumsi pangan dan komodita...
 Krueng Daroy, Contoh Baik Program Penataan Kawasan Kumuh
Ekonomi
Keberhasilan penataan kawasan yang dilaksanakan secara paralel dengan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang digulirkan Kemente...
Tahun Depan, 8,87 Juta Ton Pupuk Bersubsidi Siap Disalurkan
Ekonomi
PT Pupuk Indonesia siap menyalurkan 8,87 juta ton pupuk bersubsidi pada 2019, sebagaimana diamanahkan oleh pemerintah melalui K...
​Kemenpar Permudah Akses Destinasi Wisata di Tol Trans-Jawa
Ekonomi
Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti mengatakan, pembangunan Tol Trans-Jawa dan pengoperasiannya d...
​Pertamina EP Tajak Sumur BCT-12 di Area Bunyu Central
Ekonomi
PT Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah SKK Migas, berkomitmen...
​Pertamina RU IV Gelar Coastal Clean Up 2018
Ekonomi
Dalam rangka Hari Ulang Tahun PT Pertamina (Persero) ke-61, Pertamina RU IV menggelar kegiatan "Pertamina RU IV Coastal Clean U...
Pemerintah Luncurkan Dua Program Hibah Pemeliharaan Jalan Daerah
Ekonomi
Pemerintah meluncurkan dua program untuk meningkatkan kinerja dan pemeliharaan jalan daerah melalui dua program hibah yakni Pro...
​Kelangkaan BBM di Mamuju Dipicu Penyalahgunaan Peruntukan
Ekonomi
Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR VII, M.Roby Hervindo mengungkapkan, bahwa berita terkait kelangkaan bahan ba...
Presiden Jokowi Memulai Pembangunan Tol Pertama di Aceh
Ekonomi
Pemerintah segera memulai pembangunan jalan tol Trans Sumatra ruas Banda Aceh-Sigli. Hal itu ditandai dengan penekanan sirene d...