Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Pertamina: Tren Penggunaan BBM Khusus Terus Meningkat

14 Feb. 2018, 9.52.27

Pertamina: Tren Penggunaan BBM Khusus Terus Meningkat

Jakarta, sentananews.com

Tren masyarakat menggunakan jenis bahan bakar minyak (BBM) Khusus seperti Pertalita, Pertamax hingga Pertamina Dex dari waktu ke waktu semakin meningkat dan menyebar di hampir seluruh wilayah tanah air.

Menurut Unit Manager COMM and CSR MOR VII Sulawesi, M Roby Hervindo, hal ini tak lepas dari kesadaran masyarakat yang semakin menyadari keunggulan produk BBM khusus untuk performa kendaraan mereka.

Roby mengungkapkan, tren peningkatan masyarakat menggunakan BBM Khusus ini juga terjadi di Sulawesi yang juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

"Ada perubahan perilaku penggunaan BBM oleh masyarakat. Yang dulunya menggunakan BBM Premium kini beralih ke BBM nonsubsidi," kata Roby saat dihubungi sentananews.com lewat telepon, Rabu (14/2/2018).

Ia mengungkapkan, dari data tahun 2017 penggunaan BBM semua jenis di kawasan tersebut mengalami kenaikan konsumsi. "Bahkan BBM jenis Pertalite mengalami kenaikan konsumsi hingga 218%. Dari yang tadinya hanya 37,14 ribu kiloliter pada 2016 menjadi sekitar 118,26 ribu kiloliter pada tahun lalu," paparnya.

Selain Pertalite, kata Roby, konsumsi BBM jenis Pertamax pun ikut bertumbuh. Pada tahun 2017, konsumsinya di Sulawesi mencapai 8,82 ribu kiloliter. "Angka ini naik 20% dibandingkan konsumsi di 2016 sebanyak 7,32 ribu kiloliter," ucapnya.

Menyusul konsumsi solar yang naik 1% pada 2017, maka angka konsumsi sebesar 128,32 ribu kiloliter pada 2016 menjadi 129,39 kiloliter pada 2017. "Untuk Pertamax Turbo, (konsumsinya) 5,36 kilo liter dan Pertamina Dex 24 kiloliter sebab 2016 jenis BBM ini belum dipasarkan," terang Roby.

Ia menilai, minat konsumsi BBM khusus masyarakat sekarang memang tergolong tinggi. Hal itu terbukti dengan meningkatnya jumlah konsumsi, meski harga jual BBM jenis nonsubsidi ini sedikit di atas jenis Premium.

"Harga jual BBM jenis Pertalite di sarana pengisian bahan bakar umum Rp 7.800 per liter, sementara Pertamax Rp 8.900 per liter," ungkapnya.

"Peralihan konsumsi ini karena masyarakat mulai memahami keunggulan produk, khususnya Pertalite dan Pertamax," tambahnya.

Dijelaskan, keunggulan Pertalite dan Pertamax, lebih irit dibandingkan Premium. "Jadi, jarak tempuhnya cukup tahan dan cocok digunakan untuk perjalanan jauh," ujarnya.

Menurut dia, peningkatan di jenis BBM khusus ini menyebabkan penggunaan BBM jenis Premium di Sulawesi pada tahun 2017 menurun. "Dari konsumi sebanyak 241,74 ribu kiloliter pada 2016, melemah 23% pada 2017 sehingga angka konsumsinya hanya bertengger di 214,40 kiloliter," tukasnya.

Secara nasional, lanjut dia, pengurangan BBM jenis umum ini juga tampak signifikan. Pasalnya berdasarkan data BPH Migas, pada tahun 2016 konsumsi BBM jenis umum mencapai 48,66 juta kiloliter. Namun pada 2017, mengalami penurunan hingga 21,26 juta kiloliter. Dengan demikian, ada penurunan sebesar 56,31% dari konsumsi di tahun sebelumnya.

"Hanya saja secara total, konsumsi BBM di 2017 memang kalah jauh dibandingkan 2016. Pada 2016, konsumsi total bahan bakar di Indonesia mencapai 73,56 juta kiloliter. Angkanya kemudian merosot tajam menjadi 34,11 juta kiloliter pada 2017," tukasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, meski konsumsi premium menurun 23% namun Pertamina tetap menyediakan BBM sesuai segmen masing-masing. "Dengan demikian, kebutuhan BBM di tingkat masyarakat tetap terpenuhi," pungkasnya.

Penulis: Syarief Lussy


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Kementerian PUPR Dorong Daur Ulang Limbah Plastik Sebagai Campuran Aspal
Ekonomi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendukung pengembangan inovasi oleh perguruan tinggi. Salah satunya adal...
​Presiden Perkirakan Revitalisasi Sungai Citarum Selesai Dalam 7 Tahun
Ekonomi
Presiden Joko Widodo menyadari bahwa revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum bukanlah pekerjaan mudah yang dapat disele...
​Kebijakan Ganjil Genap di Akses Jalan Tol Bekasi, Ini Penjelasan Jasa Marga
Ekonomi
Pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan dalam waktu dekat akan memberlakukan paket kebijakan dalam rangka menangani ke...
​Kementrian PUPR Evaluasi Pembangunan 32 Jalan Tol
Ekonomi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, pembangunan proyek 32 jalan tol dan 4 Light Rapid Transit (L...
Proyek Infrastruktur Elevated Normal Dua Minggu Lagi
Ekonomi
Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin menyatakan, pembangunan proyek infrastruktur, khususnya ...
​DPR: ESDM Harus Paksa Freeport Patuhi Kesepakatan
Ekonomi
Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, kesepakatan tentang pelepasan 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga saat ini tak...
​Pertamina: Pembalap Perlu Tingkatkan Budaya Aman Berkendara
Ekonomi
Vice President HSE Management System Iwan Jatmika mengatakan, bahwa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menerapkan budaya a...
Moratorium Proyek Jalan Layang Paling Lama Tiga Minggu
Ekonomi
Badan Pengurus Pusat Gabungan Pelaksana Kontsruksi Indonesia (BPP Gapensi) berharap moratorium proyek jalan layang tidak berlan...
​Bangun Kabel Laut 20 kV, PLN Listriki Gili Gede
Ekonomi
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Barat kini tengah membangun infrastruktur kelistrikan untuk mengalirkan listrik ke salah...