Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​Subsidi Dicabut, Tarif Listrik 900 VA Naik

28 April 2016, 0.11.25

​Subsidi Dicabut, Tarif Listrik 900 VA Naik

Jakarta, sentananews.com

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih terus berupaya mensahkan rencana untuk mencabut subsidi listrik bagi 18 juta pelanggan listrik berdaya 900 voltampere (VA), yang masuk golongan mampu. Nantinya, tarif listrik golongan tersebut akan naik secara bertahap sebanyak empat kali.

Menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, kenaikan tarif listrik 18 juta pelanggan tersebut adalah sebesar 23%. Namun, kenaikan dipastikan tidak akan langsung dan akan dilakukan secara bertahap agar tidak terlalu membebani konsumen.‎

"Rencananya bakal naik bertahap23%. Tapi ini masih menunggu rapat kabinet apakah seperti ini dan kapan mulai dilaksanakan," katanya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (27/4).

Sementara itu Kepala Divisi Niaga PLN, Benny Marbun menjelaskan penggunaan listrik golongan tersebut per bulan mencapai 172 kilowatt hour (kWH). Saat ini tarif untuk golongan 900 VA adalah Rp 585 per kWh, dengan begitu pembayaran listrik per bulannya sekitar Rp 76 ribu per bulan.

"Rata-rata tarif 900VA Rp 585 per kWh, dengan konsumsi 172 kWh per bulan, pembayaran listik Rp 76 ribu per bulan," terang dia.

Artinya, kata dia, golongan 900VA masih disubsidi Rp‎ 770 per kWh atau Rp 100 ribu per bulannya. Dengan pencabutan subsidi tersebut, maka golongan pelanggan 900 VA yang mampu akan membayar hingga Rp 176 ribu per bulan. "Jadi setiap bulan bayar Rp 76 ribu kami lapor ke pemerintah, pelanggan ini sudah bayar Rp 76 ribu, pemerintah bayar Rp 100 ribu," tandasnya.

Sementara alasan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya‎ Mineral (ESDM) mencabut subsidi listrik untuk golongan 900 Volt Ampere (VA), lantaran pelanggan golongan ini masuk kategori mampu. Rencananya pencabutan subsidi tersebut akan diberlakukan pada Juli 2016.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, ‎pemerintah berupaya menggeser peruntukan subsidi dari masyarakat mampu ke masyarakat yang berhak mendapatkan.

Selain itu, subsidi listrik juga akan dialihkan untuk pengembangan infrastruktur. "Jadi, saya kira yang akan dilakukan adalah menggeser ke tempat yang lebih tepat sasaran," katanya.

Dia menyebutkan, rasio elektrifikasi nasional saat ini di angka 87%, dan pemerintah menargetkan rasionya meningkat menjadi 97% pada 2019. Namun, masih ada 56 kabupaten yang rasio elektrifikasinya masih di bawah 50%, 46 di antaranya ada di timur, selebihnya di Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Kepulauan Riau, Nias dan Mentawai.

‎Selain itu, ada 12.659 desa tersebar di seluruh Indonesia yang belum memiliki akses listrik dari PLN. Bahkan, 2.519 di antaranya masih gelap gulita di malam hari. Desa-desa ini mayoritas terletak di Papua dan kawasan timur Indonesia lainnya.

"Ini semua menjadi tugas pemerintah dan tugas kita bersama untuk memberikan keadilan, dengan menyiapkan listrik bagi masyarakat di daerah-daerah terpencil tersebut," imbuhnya.

‎Menurutnya, subsidi listrik akan digeser untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dengan melistriki daerah yang belum menikmati listrik.

"Rasio elektrifikasi, kita punya tanggung jawab berat, karena itu perlu dilakukan dengan baik, masalah subsidi serta sekali kalau kita geser masyarakat ke yang berhak, penghematan belasan triliun, subsidi bisa digeser ke yang belum beruntung, tugas negara memperhatikan yang lemah memberikan dorongan yang sudah, sehingga negara punya dukungan kuat," tandas Sudirman.

Adapun tahapan penyesuaian tarif listrik golongan rumah tangga 900VA adalah:

Tarif rumah tangga 900 VA saat ini : Rp 585/kWh,

Penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) Tahap 1: Rp 722/kWh,

Penyesuaian TTL Tahap 2: Rp 890/kWh,

Penyesuaian TTL Tahap 3: Rp 1.097/kWh,

Penyesuaian TTL Tahap 4: Rp 1.352/kWh.

Penulis: Syarief Lussy



To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

 Kementan Ingin Wujudkan Sektor Pertanian Berdaya Saing
Ekonomi
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrembangtan) Nasional 2019 diadakan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan tem...
PLN Akan Pasok Listrik 50 MW untuk MRT Fase II
Ekonomi
PT PLN (Persero) akan segera membangun depo listrik untuk kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Fase II. Depo ini akan memiliki kapasi...
​SULE Belajar Bersama Badan POM di Kecamatan Koja
Ekonomi
Puluhan ibu-ibu kader gizi di Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara antusias mendorong SULE agar makin di...
​Pertamina dan Aramco Sepakat Kerjasama Kilang Cilacap Berlanjut
Ekonomi
Pertamina dan Saudi Aramco sepakat untuk melanjutkan kerjasamanya dalam menyiapkan pengembangan Kilang Cilacap.Menurut VP Corpo...
​Mandatori B30 Jadi Fokus Pemerintah Tekan Impor BBM
Ekonomi
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menandaskan bahwa mandatori B30 menjadi fokus pemerintah untu...
​Gunakan Power Bank, PLN Suplai Listrik untuk IKEA Jakarta
Ekonomi
Peritel perabotan rumah tangga asal Swedia, IKEA, membuka gerai kedua di Jakarta Garden City (JGC) Cakung, Jakarta Timur, Rabu ...
​Menperin Dorong Peningkatan Daya Saing Industri
Ekonomi
Pemerintah terus mendorong peningkatan daya saing industri manufaktur nasional agar bisa lebih kompetitif dengan negara-negara ...
Pengguna Jasa Pelabuhan Bisa Atur Kebutuhan Secara Online
Ekonomi
Para pengguna jasa kepelabuhanan nantinya cukup mengatur kebutuhannya secara online melalui aplikasi dalam telepon genggam deng...
KKP: Usaha Budidaya Harus Terapkan Prinsip Berkelanjutan
Ekonomi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengungkapkan, komitmen penerapan budidaya berkelanjutan dan keamana...