Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

EWI Sesalkan Telepon Pejabat Negara Disadap dan Disebarluaskan

28 April 2018, 22.39.30

EWI Sesalkan Telepon Pejabat Negara Disadap dan Disebarluaskan

Jakarta, sentananews.com

Direktur Eksekutif Energy Watch, Ferdinand Huatahean mengaku tidak begitu tertarik untuk membahas isi pembicaraan lewat telepon antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Utama PLN, Sofyan Basir yang beredar luas di masyarakat.

Menurut dia, yang justru paling menguatirkan adalah lemahnya keamanan negara karena telepon pejabat negara dengan mudah disadap dan disebar luaskan. "Ini poin paling penting yang harus menjadi perhatian dibandingkan konten pembicaraan antara Rini dan Sofyan Basyir," kata Ferdinand dalam keterangan persnya yang diterima Sentananews.com di Jakarta, Sabtu (28/4) malam.

Kejadian ini, kata dia, memang memprihatinkan sekaligus mengkhwatirkan semua pihak. Selain itu, sulit menempatkannya harus di ranah apa. Apakah masuk dalam ranah politik, atau ranah hukum, atau bahkan masuk dalam ranah ekonomi. "Tidak mudah kita kelompokkan karena tampaknya bocornya rekaman tersebut memborong tiga ranah tersebut," tambah Ferdinand.

Menurut dia, ada yang menghentak dan menjadi fokus yang terlewatkan dari peristiwa tersebut. "Saya tidak ingin masuk terlalu jauh ke dalam konten pembicaraan karena memang kontennya kabur, sajar dan tidak jelas, apakah bicara angka fee bagi pejabat atau angka saham yang menjadi bagian dari PLN dan Pertamina," tukasnya.

Ia mengatakan, akan menjadi perdebatan panjang bila mebahas konten yang samar tersebut. Terlebih lagi, kabarnya objek yang dibahas adalah Pembangunan Terminal LNG di Bojonegara yang yang melibatkan group perusahaan Wakil Presiden Jusuf Kalla yaitu Bumi Sarana Migas. "Apapun itu, kami lebih ingin membahas tentang lemahnya keamanan jalur komunikasi pejabat negara," ujarnya.

Seharusnya, kata dia, seluruh pejabat negara dilindungi keamanannya, baik fisik, agenda dan juga termasuk jalur komunikasinya, sehingga tidak boleh bocor atau disadap oleh pihak manapun. "Namun kejadian ini jelas membuka mata kita bahwa lemahnya keamanan jalur komunikasi pejabat kita menjadi pertanyaan. Jangan-jangan saluran telepon presiden pun disadap oleh pihak yang sama.

Untuk itu, lanjut dia, fokus yang harus segera ditangani adalah mengusut siapa pelaku penyadapan saluran telepon Rini dan Sofyan tersebut. Pelakunya mungkin saja telah menyadap pejabat lain juga. "Bisa saja ini sebuah sinyal kepada siapapun agar tidak macam-macam di tahun politik yang panas ini," ucapnya.

Menurutnya, pelaku penyadapan ingin mengirim pesan kepada semua karena bisa saja pembicaraannya dibuka ke publik. Bahkan pelaku juga sepertinya ingin memberikan tekanan dan peringatan kepada Presiden maupun Wakil Presiden dengan cara membuka pembicaraan pembantu presiden yaitu menteri BUMN.

"Mungkin saja mereka ingin menakut-nakuti pejabat pemerintah supaya mengikuti kemauan pihak penyadap. Jadi bagi saya, sekali lagi fokus yang paling penting adalah mencari siapa pelakunya, konten pembicaraan itu nomor dua," tukasnya.

"Saya tidak bisa bayangkan bila penyadap ingin mengirim pesan kepada presiden untuk mengikuti kemauannya, atau bila tidak mau, sadapan pembicaraan presiden ajan dibuka juga. Ini tahun politik yang keras dan kejam," pungkasnya.

Apalagi kejahatan tersebut telah diatur oleh UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang sanksi pidananya diatur pada Pasal 56 UU No.36/1999, disebutkan bahwa:

"Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun."

Selain itu, UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No.19/2016). Seperti yang disebutkan dalam Pasal 30 UU No.11/2008, dengan ancaman kurungan 6 s.d 8 tahun dan denda.

Penulis: Syarief Lussy


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Serangan AS ke Suriah Tambah Ketegangan di Timteng
International
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Dr Yon Machmudi mengatakan, serangan pasukan Amerika Serikat dan sekutun...
Amerika Serikat Mulai Serang Suriah
International
Amerika Serikat mulai melancarkan serangan militer ke Suriah sebelum fajar menyingsing pada Sabtu, dan suara ledakan keras berg...
​Jadi Mata-mata Rusia, Estonia Penjarakan Dua Warga
International
Badan keamanan dalam negeri Estonia KaPo, Kamis, mengumumkan dalam laporan tahunannya bahwa negara Baltik tersebut memenjarakan...
​Mensos Nilai Kearifan Lokal Jaga Kerukunan Antar Warga
International
Menteri Sosial Idrus Marham mengungkapkan bahwa fungsi Kearifan Lokal yang dimiliki masyarakat Asmat Papua dapat menjaga keruku...
Jet F-16 Israel Jatuh Ditembak Pasukan Suriah
International
Sebuah jet tempur F-16 milik Israel jatuh di bagian utara negara tersebut, Sabtu (10/2). Insiden ini terjadi karena "tembakan a...
Myanmar Bantah Laporan Soal Kuburan Massal
International
Laporan tentang keberadaan lima kuburan massal Rohingya di sebuah desa di Rakhine, wilayah perbatasan yang luluh lantak akibat ...
Trump: Departemen Kehakiman dan FBI Memihak Demokrat
International
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh para pemimpin Departemen Kehakimannya dan FBI bias secara politik dengan mem...
China Akan Perpanjang Jalan Sutra Lintasi Kutub Utara
International
China berharap dapat bekerja sama dengan semua pihak dalam membangun gagasan mengembangkan jalur pengiriman melintasi Kutub Uta...
​Diancam Korut, AS Kerahkan 3 Bomber B-2 ke Guam
International
Guna mendukung misi "Bomber Assurance and Deterrence" Komando Pasifik AS, Militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan tiga pesawat...