Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Fenomena Gerhana Matahari Total Akan Jadi Daya Tarik Wisatawan

27 Jan. 2016, 16.42.39

Fenomena Gerhana Matahari Total Akan Jadi Daya Tarik Wisatawan

Ilustrasi Gerhana Matahari Total

​Kupang, Sentananews.com

Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia Nusa Tenggara Timur Messakh Toy mengatakan fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi 9 Maret 2016 menjadi ajang untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Timur.

"Untuk itu operator dan pengelola pariwisata harus siap dan kreatif menangkap peluang dengan memanfaatkan aspek utama dari GMT 2016 seperti aspek ilmiah penelitian, edukasi publik, dan aspek budaya yang berdampak pada pariwisata daerah setempat," katanya kepada Antara di Kupang, Rabu (27/01)

Selain itu, menurut Pramuwisata senior pada PT Flores Wisata Tour & Travel dan Ocenia World Tour & Travel NTT, momentum GMT pada Maret 2016 membawa berkah tersendiri bagi pengembangan faktor pendukung pariwisata seperti ketersediaan infrastruktur dan sarana prasarana penunjang menuju destinasi.

GMT itu juga kata alumni tour ke Malaysia (2007), Australia (2009) dan Hongkong (2013) itu sebagai bagian dari upayanya untuk terus mempromosikan berbagai destinasi wisata di Indonesia selain Bali, dengan menghadirkan berbagai atraksi budaya atau festival serta pengalaman perjalanan domestik.

"Ini juga sejalan dengan upaya Kementerian Pariwisata yang menargetkan kedatangan 20 juta wisatawan ke Indonesia sampai 2019 melalui program pengembangan destinasi wisata prioritas yang difokuskan pada kekayaan budaya dan keindahan alam Indonesia.

Oleh karena ituinfrastruktur jalan, telekomunikasi dan listrik dan sarana penunjang di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisatawan ini perlu direnovasi dan dierbaiki, sehingga tidak menghambat atau bahkan mengurangi minat para pelancong.

"Dan memang sudah saatnya, ekonomi berbasis jasa harus di kembangkan para petani, dan nelayan yang didorong untuk maju menyesuaikan budaya berbasis wisata," katanya.

Hal itu menurut dia, komoditas pertanian seperti Mangga, pisang, sayur-sayuran, ikan, daging dan lainnya harus sesuai dengan tuntutan kepariwisataan.

Karena hotel-hotel berbintang empat dan lima memiliki standar buah-buahan, sayur-sayuran dan kualitas daging sehingga masyarakat NTT harus di dorong dan didik untuk menyesuaikan budaya kepariwisataan.

Sudah saatnya untuk mengembangkan pola pertanian dan perkebunan agar sesuai dengan kualitas sehingga NTT terhindar dari impor buah-buahan dan sayur-sayuran dari luar.

Para pelaku budaya tradisional harus mengadaptasi mengikuti tuntutan pasar pariwisata, sehingga tidak asal-asal menanam.

"Jangan berpikir yang muluk-muluuk tentang bagaimana harus menjual atau promosi daerah ini kepada para pelancong atau pemburu informasi GMT nanti, tetapi hal-hal seperti di atas jarang dilupakan, meskipun penting bagi para wisatawan," katanya.

Dalam konteks GMT nanti, para pemburu GMT seperti astronom, fotografer, dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dari berbagai negara, telah merencanakan mengunjungi Indonesia, khususnya ke daerah yang dilintasi GMT 2016.

Sehingga akan banyak pelajaran penting yang bisa diambil dan disempurnakan untuk memberikan manfaat besar bagi Indonesia terkait mencerdaskan masyarakat serta meningkatkan pariwisata untuk memperkenalkan potensi budaya dan alam Indonesia kepada wisatawan.

"Ini kejadian yang sangat langka yang akan berlangsung hanya 2 menit saja, kalau kita sebelumnya bisa memborbardir imaginasi para wisatawan dengan promosi yang bagus, bagaimana kelangkaan ini, gejalanya apa, dan sebagainya pasti wisatawan akan datang dengan antusias dan gembira," katanya.

GMT dengan durasi sekitar 2-3 menit tersebut akan melintasi 12 provinsi di Indonesia yakni, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku serta sejumlah kota besar seperti Palembang, Tanjung Pandang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate, dan Sofifi.

Sedangkan mereka yang berada di Kota Padang (Sumatera Barat), Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang (NTT), Manado, dan Ambon akan bisa menikmati fenomena gerhana matahari sebagian.

Editor: Khoerul Kahfi


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

AthaNdun

AthaNdun

Kupang jg dpt mlht sbgian GMT...

report
HUT Golkar ke 54, Presiden: Indonesia Terus Menanti Karyamu
News
Puncak peringatan HUT Partai Golkar yang ke-54, Minggu (21/10) sore berlangsung meriah. Dengan mengangkat tema "Bersama Rakyat,...
Terkait Penyegelan 3 Gereja di Jambi, GMKI Se-Indonesia Serentak Gelar Aksi
News
BUNTUT adanya penyegelan terhadap tiga Gereja di Kota Jambi pada tanggal 27 September 2018 yakni; Gereja GSJA, GMI, dan HKI ber...
​Pelukan YBM PLN untuk Pengungsi Dusun Wombo
News
Petang itu, jumat (28/9) Masliani (25) masih terkulai lemas di salah satu ruangan Puskesmas Pantoloan, Palu. Dirinya masih mela...
Tanggap Darurat Bencana Harus Sediakan Fasum dan Fasos
News
Kepala Subdirektorat Konstruksi Berkelanjutan Kementerian PUPR, Brawijaya mengatakan, pemerintah telah berupaya keras untuk dap...
​Pemerintah Bersatu Pulihkan Wilayah Terkena Bencana
News
Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletu...
Suap Meikarta, KPK Buka Peluang Jerat Lippo Group
News
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Bupati Bekasi periode 2017-2022, Neneng Hasanah Yasin (NHY) dan Direktur Op...
​Terjerembap di 'Tanah Basah' Meikarta, Neneng Dipecat
News
Dikenal sebagai bupati muda dari Partai Golkar, Neneng Hassanah punya perjalanan karier politik yang mengantarkan dirinya hingg...
3,6 Juta Pelamar Bersaing di Seleksi CPNS 2018
News
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyatakan total pendaftar seleksi calon pegawai negeri sipil...
Satu Bola Lampu, Sejuta Harapan Kota Palu
News
"Satu bola lampu yang menyala memberi harapan sejuta pedagang di kota Palu"Kalimat di atas meluncur dari Simpra Tajang (51), pe...