Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​Sikap Legowo dan Tak Jumawa Kedua Pasangan Dinginkan Suasana

20 April 2017, 11.49.31

​Sikap Legowo dan Tak Jumawa Kedua Pasangan Dinginkan Suasana

Jakarta, Sentananews.com

Ada yang patut dibanggakan dari sikap kedua pasangan yang bertarung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, Rabu (19/4) kemarin. Bagaimana tidak, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang kalah (masih berdasarkan hitung cepat beberapa lembaga survei-red) sama sekali tidak emosional dan tampaknya "legowo" (ikhlas) menerima hasil tersebut. Sementara yang menang juga menunjukkan tidak "jumawa" (mentang-mentang dan sombong). Setidaknya hal itu tecermin dari pernyataan kedua pasangan calon yang baru saja saling berhadap-hadapan di pilkada yang panas dan sengit itu

Yang jelas, pernyataan itu mengakhiri spekulasi bahwa pertarungan politik di DKI Jakarta masih akan panas dan berlanjut. Pernyataan Ahok-Djarot menurunkan tensi politik di Jakarta yang sudah panas sejak awal tahun 2016.

Awal tahun 2016, tensi politik di Jakarta mulai "menggeliat" dengan adanya penggalangan dukungan dari publik yang dilakukan "Teman Ahok" agar Ahok melenggang melalui jalur perseorangan atau independen. Saat itu manuver, pernyataan, penggalangan dukungan dan klaim dukungan terus mewarnai halaman-halaman media massa.

Sampai akhirnya Ahok menjatuhkan pilihan untuk menggunakan partai sebagai kendaraan politiknya kemudian tidak menggunakan jalur perseorangan atau independen seperti telah digagas "Teman Ahok". Berita-berita pilkada DKI masih terus ramai. Bahkan untuk menentukan pilihan calon wakil gubernur juga begitu ramai. Pokoknya pilkada DKI selalu mewarnai berita-berita media massa. Apalagi setelah adanya kasus di Kepulauan Seribu.

Dalam suasana yang berbeda tetapi berkaitan, kasus Kepulauan Seribu memicu terjadinya gelombang protes dan aksi massa dalam beberapa kali, yaitu Oktober, November dan Desember 2016. Bahkan dalam jumlah yang diklaim mencapai jutaan orang.

Itu semua mewarnai sejarah perjalanan pilkada di Jakarta, bahkan juga di Indonesia. Catatan itu antara lain menunjukkan bahwa selama ini belum pernah ada pilkada seheboh dan segawat pilkada DKI Jakarta.

Dikatakan heboh karena beritanya sampai ke semua daerah, bahkan luar negeri. Dikatakan gawat karena "bergesekan" dengan persoalan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang amat sensitif dan harus dihindari karena bisa mengganggu NKRI.

Karena itu, untuk menjaga keamanan dan mengantisipasi semakin gawatnya tingkat keamanan nasional, ribuan tentara dan polisi dikerahkan untuk melakukan penjagaan keamanan di ibu kota negara Indonesia. Bahkan tak sedikit polisi dan tentara yang didatangkan dari luar daerah.

Dengan kehebohan dan tingkat kegawatan yang demikian tinggi akibat meningkatnya tensi politik di pilkada DKI, tak sedikit orang yang menganggap pilkada DKI tak ubahnya pemilihan presiden. Pilkada ini adalah titik tumpu sehingga seperti pemilihan presiden.

Dari segi lokasinya berada di ibu kota negara, isunya yang diangkat sangat sensitif serta menggambarkan kepentingan elit-elit atau tokoh-tokoh politiknya. Yang tak kalah pentingnya adalah adanya persilangan kepentingan terkait pengelolaan sumber daya ibu kota, seperti isu reklamasi.

Semua pertarungan itu sudah berakhir di bilik suara dan hasilnya tergambar dalam tabel-tabel perolehan suara hitung cepat beberapa lembaga survei. Kedua pasangan calon sudah menyatakan sikapnya yang mengindikasikan bahwa tensi politik DKI dan nasional akan reda.

Apalagi ada agenda pertemuan antara Anies dan Ahok. Semua itu diyakini sebagai upaya menyatukan dan menghilangkan sekat atau serpihan perasaan yang sempat terbelah antarwarga DKI selama berbulan-bulan akibat pilkada. Dalam pernyataannya, kedua pasangan calon itu bertekat sesegera mungkin mengakhiri sekat, perbedaan dan serpihan-sepihan perasaan yang terbelah itu.

Tensi politik nasional juga diperkirakan akan mereda dengan selesainya pilkada DKI Jakarta. Sekadar membuka kembali catatan bahwa untuk putaran pertama saja--yang diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan gubernur/wakil gubernur di tujuh provinsi, 18 kota dan 76 kabupaten pada 15 Februari 2017--pemerintah pusat harus menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Di putaran kedua ini, pemerintah menetapkan libur hanya untuk DKI Jakarta. Walaupun ada saja warga yang "nyinyir" karena tidak lagi libur pada pilkada DKI putaran kedua dengan kalimat "pilkada DKI Jakarta hebohnya seantero negeri, tetapi liburnya hanya Jakarta".

Kini pilkada paling "menyeramkan" telah berlalu. Semua pihak menunggu tahap penghitungan suara oleh KPU DKI Jakarta hingga keputusan final nantinya. (ant)

Editor: Syarief Lussy


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Ketua PPK Citeureup Ancam Lapor Balik Saksi Pasangan Jadi
Pilkada
Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Citeuteup Kabupaten Bogor, Rafidon Jirus, menolak dengan tegas segala tuduhan...
Siswa Miskin akan Ditanggung  di Depok
Pilkada
Depok, sentananews.com Siswa miskin yang tidak tertampung di sekolah negeri dikarenakan melampaui kuota penerimaan tidak perlu...
KPUD Jabar Digeruduk Massa Aksi Ijazah Palsu
Pilkada
Pesta Demokrasi Pilkada serentak 27 Juni 2018 tinggal menghitung hari lagi. Namun dinamika politik yang terjadi semakin memanas...
Pertanyakan Dugaan Ijazah Palsu Cabup, KPU Pusat Digeruduk
Pilkada
Puluhan Pemuda Anti Ijazah Palsu menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Jakarta. Dalam ke...
​Diskominfo Edukasi Pemilih Pemula Mengenai Pemilukada
Pilkada
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bogor dalam hal ini UPT Radio Tegar Beriman (Teman) lakukan edukasi dem...
Dialog Publik Pemuda Kuningan Hadapi Pilkada 2018
Pilkada
KPUD Kabupaten Kuningan bersama dengan Lembaga Pers Mahasiswa dan PMII Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan dialog publik dan ...
KPUD Kab Bogor Tetapkan Nomor Urut Calon
Pilkada
Komisi Pemilihan Unum (KPU) Kabupaten Bogor mengelar rapat pleno pengundian nomor urut pasangan calon Bupati/wakil Bupati Bogor...
Sekda Tegaskan ASN Harus Netral
Pilkada
Untuk memastikan ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Bogor dalam rangka menghadapi pemilihan pilkada 2018, Sekda Adang Suptanda...
Saat Lari Pagi, Bima Arya Kenalkan Calon Wakil
Pilkada
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto memperkenalkan kepada warga calon yang akan mendampinginya mengikuti pemilihan wali kota dan...