Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Belajar di Sekolah Swasta Bukan Kiamat

12 Juli 2017, 18.31.17

Belajar di Sekolah Swasta Bukan Kiamat

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah negeri melahirkan suka bagi orang tua yang anaknya diterima dan menyisakan duka bahkan kecewa bagi orang tua yang anaknya gagal diterima. Hal ini manusiawi, siapapun kalau berhasil pasti senang dan kalau gagal pasti kecewa.

Bagi sebagian orang tua, PPDB bukan hanya sebuah proses administratif yang harus diikuti agar anaknya bisa belajar di sekolah yang dituju, tetapi juga pertaruhan gengsi dan harga diri, sehingga mereka banyak memburu sekolah-sekolah negeri yang konon berstatus unggulan, meski sekolah tersebut di luar zona tempat tinggalnya.

Walau tahu aturan, mereka kadang memaksakan diri mendaftar ke sekolah-sekolah negeri unggulan dengan bermodal "surat sakti", rekomendasi, ketebelece dari pejabat, aparat, birokrat, wakil rakyat, sampai oknum wartawan, dan LSM. Bahkan ada kasus kepala sekolah mendapatkan teror dari oknum tertentu gara-gara ada seorang anak yang ditolak di sekolah tertentu.

Masalah PPDB yang horor dan begitu kompleks hampir terjadi setiap tahun. Sekolah-sekolah negeri di perkotaan rata-rata menerima pendaftar melebihi kuota yang telah ditetapkan, sehingga ditetapkanlah passing grade. Walau sudah ditetapkan sistem zonasi untuk menghindari bertumpuknya pendaftar ke sekolah-sekolah tertentu, tetapi masih saja ada pendaftar yang keluar dari zona dengan alasan ingin mendapatkan sekolah yang berkualitas bagi anak-anaknya.

Pola pikir masyarakat yang negeri minded ini membuat sekolah-sekolah negeri selalu kebanjiran pendaftar, sedangkan di sisi lain, sekolah-sekolah swasta non favorit banyak yang sepi pendaftar, dan menunggu limpahan dari pendaftar yang gagal mendaftar di sekolah negeri.

Sejatinya, PPDB di sekolah swasta non favorit dimulai sejak ditutupnya pendaftaran di sekolah negeri, kecuali bagi sekolah-sekolah swasta favorit, bonafit, yang biasanya berbiaya mahal, dan berkarakter boarding school, dimana jauh-jauh hari sebelum dimulai pendaftaran pun sudah penuh dengan pendaftar, bahkan sudah full booked ketika yang lain baru akan menerima pendaftaran.

Pendaftar ke sekolah-sekolah swasta favorit pada umumnya adalah para orang tua kalangan ekonomi menengah ke atas yang telah membulatkan niatnya untuk mendaftar anaknya ke sekolah swasta, tidak tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri dengan berbagai pertimbangan, baik pertimbangan kurikulum yang khas, misalnya ada tambahan kurikulum keagamaan, pola pembinaan peserta didik yang bagus, serta lulusan yang telah terbukti berkualitas.

Para orang tua yang anaknya gagal mendaftar di sekolah negeri sebaiknya tidak kecil hati. Anaknya pun tidak perlu minder. Sekolah negeri atau swasta hanya soal label, sedangkan kualitasnya relatif sama, meski mungkin ada aspek seperti sarana dan prasarana yang relatif berbeda. Guru-guru di sekolah swasta pun pada umumnya sudah disertifikasi, meski guru-guru di sekolah swasta didominasi oleh guru-guru honorer dan pada umumnya masih relatif berusia muda.

Sekolah-sekolah swasta pun saat ini sudah cukup banyak yang kompetitif. Walau demikian, memang ada juga sekolah swasta yang "sekarat" dan kurang sehat karena manajemen yang kurang bagus serta kalah bersaing dengan sekolah-sekolah di sekelilingnya.

Paradigma negeri-swasta, unggulan dan non unggulan sebenarnya saat ini sudah berupaya dikikis oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendikbud nomor 17 tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru. Permen ini juga untuk mengantisipasi adanya penumpukan peserta didik di sekolah tertentu, sementara ada sekolah yang kekurangan peserta didik.

Kesuksesan seseorang pada dasarnya tidak tergantung tempat dimana dia belajar, tetapi tergantung kerja keras dan ada juga faktor nasib. Kalau sudah masuk dunia kerja, tidak akan ditanya lulusan dari mana, tapi apa kompetensi yang dimiliki yang dibuktikan dalam kinerja. Hasil penelitian di Harvard University menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang 20% ditentukan oleh hard skill atau intelektualitas, dan 80% ditentukan oleh soft skill seperti kerja keras, disiplin, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi dengan lingkungan, dan sebagainya.

Berdasarkan kepada hal tersebut diatas, maka bagi para peserta didik yang belajar di sekolah swasta, jangan malu dan jangan minder. Buktikan bahwa walau belajar di sekolah swasta tapi mampu belajar dengan baik dan menjadi lulusan yang unggul. Jalan hidup terbentang luas menuju sukses. Belajar di sekolah swasta bukan kiamat, tapi sarana untuk menuju hidup bermartabat.

Oleh: Idris Apandi

Praktisi Pendidikan


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Sesak  Napas  Media Cetak   "Lawas"
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang ERA digital begitu cepat merubah, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia, terutama di bid...
​Merekonstruksi Peran BUMN Strategis Berdasarkan Konstitusi Ekonomi
Suara Kita
Pada tanggal 21 Agustus 2018, genap sudah 4 (empat) bulan 1 hari BUMN PT. (Persero) Pertamina dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt...
Pelatihan  Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI Prov. DKI Jakarta)Wartawan atau Jurnalis merupakan profesi yang unik, ini yang d...
Kemelut PPDB  2018
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta, Red Sentana) Setiap tahun, salah satu kesibukan orangtua murid a...
Tolak Kesepakatan Kontrak Freeport yang Merugikan Negara!
Suara Kita
Indonesian Resources Studies (IRESS) menolak keras rencana pemerintah menyelesaikan negosiasi kontrak tambang Freeport bulan in...
Menelusuri Jejak Sejarah Pancasila
Suara Kita
Menjelang 73 tahun lahirnya Pancasila, dengan bantuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), saya dituntun untuk bertem...
Merekatkan Serpihan Indonesia Hebat
Suara Kita
Kesejahteraan adalah impian seluruh rakyat Indonesia.Negara melalui pemerintahan lah, yang bertugas membikin impian rakyat jadi...
Batalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018
Suara Kita
Presiden Joko Widodo perlu segera membatalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Migas yang Berakhi...
Kendala  Kecil   Pencegahan   Kekerasan  Terhadap  Anak
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta/Red Sentana). TINDAKAN para "predator" anak sudah keterlaluan, sudah ...