Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Mana Agenda Caprrs Mengintervensi ProdukAnak Bangsa

16 Des. 2018, 9.43.06

Mana Agenda Caprrs Mengintervensi ProdukAnak Bangsa

Jakarta, sentananews.com

Suatu Jumat di bulan Agustus lalu, penulis berada di Yogyakarta. Wawancara. Dengan Profesor Doktor Sutrisna Wibawa, M.Pd, Rektor Univ Negeri Yogyakarta- UNY.

Hari itu cerah. Ada 136 Perguruan Tinggi se Indonesia, yang mengikuti pekan ilmiah mahasiswa nasional, yang acaranya diselenggarakan UNY.

Sejumlah 136 PT itu, mereka presentasikan karya kreativitas dan inovasinya. Tentang eksakta, humaniora, kewirausahaan, hingga gagasan-gagasan ilmiah lainnya dari para dosen dan mahasiswa.

Karena waktu itu mau jumatan. Kami ngobrol cuma 50 menit. Tapi 50 menit yang cukup menjelaskan situasi sekarang. Misalnya, soal serbuan produk negara negara luar, yang bikin Indonesia menjadi bangsa konsumtif, yang bikin kita selalu jadi bulan-bulanan produk luar.

Dalam wawancara itu, penulis mencatat dan merekam. Luar biasa. Karena kampus di mana penulis singgah di hari itu, adalah kampus pendidikan, kampus guru. Tapi ternyata luara biasa. Dari yang penulis catat dan rekam, UNY bukan lagi kampus guru dalam pengertian dulu. Tapi sudah hamper sama deng ITB.

Bayangkan saja: sepeda listrik hingga mobil listrik, dalam rangka hemat energi, sudah diproduksi di UNY. Bukan cuma itu. Oli bekas juga sudah diriset, diujicobakan, untuk energi terutama di desa desa atau daerah yang sulit listrik.

Ada masalah? Iya! Tapi masalah yang dijawab oleh sang rektor. Yakni, hubungan pendidikan dengan trend teknologi yang erat. Dan, pengaruh teknologi dengan pembangunan negara yang faktanya sangat dominan.

Diantara wawancara, benak penulis dibalut kalau, kalau, kalau...Kalau sebuah universitas tak mau mati suri, pilihannya adalah mengangkat atmosfir akademik, atau bahkan mempertemukan antara filosofi awal berdirinya dengan trend kekinian dunia. UNY adalah contoh bagus tentang (yang dulu IKIP) tapi kini bicara dan kompetitif di teknologi.

Kalau ternyata ada anak bangsa yang punya produk-produk riset yang tak kalah laku. Kenapa Indonesia masih menjadi bulan-bulanan produk negara luar?

Ternyata, riset-riset yang sudah dihasilkan oleh perguruan tinggi kita, itu masih berhenti di hasil. Belum dihilirkan menjadi produk siap jual. Kenapa?

Karena sejauh ini, belum ada intervensi negara, belum ada keberpihakan yang kongkrit dari negara terhadap kemampuan dan produk riset anak bangsa. Pantas saja. Kita diserbu produk negara-negara luar. Itu kata profesor Sutrisna, bukan kata penulis.

Supaya kita tak lagi menjadi bulan-bulanan produk luar. Analisa Profesor Sutrisna Wibawa jangan dianggap enteng. Pastilah. Produk apa saja yang dihasilkan anak bangsa, sekarang sangat menunggu intervensi Negara. Pemilihan Presiden yang tinggal beberapa bulan lagi. Mana ya, agenda capres mengintervensi produk anak bangsa?

Penulis: Luthfi Pattimura


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Harga Tiket Pesawat, Avtur dan Perseturuan Otoritas Negara
Suara Kita
Polemik atas kenaikan harga tiket pesawat yang dikomplain oleh para calon penumpang di Banda Aceh, Provinsi NAD dengan cara mem...
NKRI Bakal Punah?
Suara Kita
Tidak satupun negara di dunia ini luput dari ancaman kepunahan, tak terkecuali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahka...
​Pembangunan Kilang Nasional: Mari Lawan Mafia
Suara Kita
Karena lambatnya pembangunan kilang, saat melantik Nicke Widyawati menjadi Dirut Pertamina (29/8/2018, pemerintah meminta Perta...
​Kisah Eva dari Desa Lore Palu
Suara Kita
Tidak ada lagi senyum di wajah Eva (9). Ia hanya duduk lemas dengan tatapan kosong. Hiruk pikuk keriangan anak -anak lain saat ...
Sesak  Napas  Media Cetak   "Lawas"
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang ERA digital begitu cepat merubah, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia, terutama di bid...
​Merekonstruksi Peran BUMN Strategis Berdasarkan Konstitusi Ekonomi
Suara Kita
Pada tanggal 21 Agustus 2018, genap sudah 4 (empat) bulan 1 hari BUMN PT. (Persero) Pertamina dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt...
Pelatihan  Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI Prov. DKI Jakarta)Wartawan atau Jurnalis merupakan profesi yang unik, ini yang d...
Kemelut PPDB  2018
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta, Red Sentana) Setiap tahun, salah satu kesibukan orangtua murid a...
Tolak Kesepakatan Kontrak Freeport yang Merugikan Negara!
Suara Kita
Indonesian Resources Studies (IRESS) menolak keras rencana pemerintah menyelesaikan negosiasi kontrak tambang Freeport bulan in...