Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​PDI-P dan Ahok

9 Juni 2016, 8.49.38

​PDI-P dan Ahok

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Jakarta, Sentananews.com

Mendekati dibukanya pendaftaran bakal calon Gubernur DKI Jakarta 2017 dari jalur perseorangan (independen), terjadi perpecahan, perbedaan pandangan antar sesama pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Ada tiga opsi yang menjadi pilihan PDI-P terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Yang pertama yakni mendukung calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpasangan dengan Heru di jalur independen. Opsi kedua, PDI-P mendukung Ahok sebagai calon Gubernur tetapi berpasangan dengan Djarot melalui jalur partai politik (PDI-P). dan opsi ketiga, PDI-P mengusung calon sendiri.

Terkait tiga opsi itu, tampaknya PDI-P mempertimbangkan betul faktor efek suara partainya pada pemilu 2019. Tak dapat dipungkiri, pendukung atau pemilih Jokowi-Ahok, baik pada saat Pilgub DKI 2012 maupun Pilpres 2014 di Jakarta adalah orang yang sama, yang juga pemilih PDI-P. contoh rillnya adalah para relawan "TemanAhok" yang tak lain adalah pendukung Jokowi-Ahok dan Jokowi saat Pilpres, yang juga di dalamnya pendukung dan kader PDI-P. apalagi Jakarta adala Ibu Kota Negara yang merupakan barometer perpolitikan nasional.

Jika PDI-P salah memilih, dapat dipastikan akan berimbas pada melorotnya perolehan suara mereka di Pemilu 2019 secara nasional. Sebaliknya, jika PDI-P mengambil pilihan tepat, sekalipun itu harus "Merendahkan Diri", kedigdayaan partai ini di Pemilu 2014 akan bertahan, bahkan mungkin bertambah suaranya di Pemilu 2019.

Dari beberapa statemen petinggi PDI-P, tampak rasa sombong atau tak mau merendahkan dirinya bila harus mengusung Ahok melalui jalur independen. PDI-P merasa Ahoklah yang harus datang dan meminta dukungan kepadanya, sementara Ahok tak mau melakukan itu karena takut dimintai mahar, dan utamanya akan bernasib sama seperti Presiden Jokowi yakni terlalu diatur partai, seperti yang diungkapkan harian "The New York Times".

Ahok sendiri, tak mau datang, ibaratnya memohon agar PDI-P mendukung dirinya. sikapnya tegas, maju melalui jalur independen, dan juga tidak mau mengecewakan relawan "Teman Ahok" yang sudah bersusah payah, sukarela untuknya. Karena sebelumnya, Ahok telah meminta restu ke PDI-P untuk meminta Djarot sebagai pendampingnya, namun PDI-P berkeras tidak mengeluarkan rekomendasi dengan alasan Ahok harus mengikuti mekanisme partai.

Dengan Ahok yang tegas akan keputusannya maju melalui jalur independen dan PDI-P yang keukeuh mempertahankan harga dirinya, akhirnya bisa mengarah pada dua opsi pilihan yakni, mendukung Ahok-Heru di jalur independen atau mengusung Ahok-Djarot melalui jalur partai tetapi tanpa syarat. Tanpa syarat artinya, tidak ada mahar, dan tidak ada tuntutan (intervensi) partai saat Ahok-Djarot terpilih kembali, seperti yang dialami Jokowi.

Sangat besar resikonya bila PDI-P mengusung calon sendiri. Karena tidak ada calon kuat dari internal mereka yang dinilai bisa menandingi Ahok. Risma yang sempat dibujuk, bahkan dipaksa karena dianggap bisa menandingi Ahok, ternyata menolak dicalonkan sebagai Cagub DKI. Bila PDI-P mengusung calon lain dan ternyata kalah, maka petaka, PDI-P akan ditinggalkan sebagian besar pemilihnya (bisa berimbas ke seluruh Indonesia) di Pemilu 2019 akan terjadi, dan hal ini tentu tak diinginkan PDI-P.


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Mana Agenda Caprrs Mengintervensi ProdukAnak Bangsa
Suara Kita
Suatu Jumat di bulan Agustus lalu, penulis berada di Yogyakarta. Wawancara. Dengan Profesor Doktor Sutrisna Wibawa, M.Pd, Rekto...
​Pembangunan Kilang Nasional: Mari Lawan Mafia
Suara Kita
Karena lambatnya pembangunan kilang, saat melantik Nicke Widyawati menjadi Dirut Pertamina (29/8/2018, pemerintah meminta Perta...
​Kisah Eva dari Desa Lore Palu
Suara Kita
Tidak ada lagi senyum di wajah Eva (9). Ia hanya duduk lemas dengan tatapan kosong. Hiruk pikuk keriangan anak -anak lain saat ...
Sesak  Napas  Media Cetak   "Lawas"
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang ERA digital begitu cepat merubah, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia, terutama di bid...
​Merekonstruksi Peran BUMN Strategis Berdasarkan Konstitusi Ekonomi
Suara Kita
Pada tanggal 21 Agustus 2018, genap sudah 4 (empat) bulan 1 hari BUMN PT. (Persero) Pertamina dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt...
Pelatihan  Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI Prov. DKI Jakarta)Wartawan atau Jurnalis merupakan profesi yang unik, ini yang d...
Kemelut PPDB  2018
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta, Red Sentana) Setiap tahun, salah satu kesibukan orangtua murid a...
Tolak Kesepakatan Kontrak Freeport yang Merugikan Negara!
Suara Kita
Indonesian Resources Studies (IRESS) menolak keras rencana pemerintah menyelesaikan negosiasi kontrak tambang Freeport bulan in...
Menelusuri Jejak Sejarah Pancasila
Suara Kita
Menjelang 73 tahun lahirnya Pancasila, dengan bantuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), saya dituntun untuk bertem...