Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Pelatihan Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"

16 Agu 2018, 14.50.02

Pelatihan  Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"

Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI Prov. DKI Jakarta)


Wartawan atau Jurnalis merupakan profesi yang unik, ini yang dikatakan banyak orang dan berbagai kalangan. Bahkan yang menggeluti profesi ini sendiri juga berpendapat seperti itu. Belasan tahun lalu, Pemimpin Redaksi "Sangsaka" , Sabar Hutasoit kerap mengatakan kepada jurnalis yang baru bergabung, "selamat datang di dunia "Antah Beranta". Dalam Kamus Bahasa Indonesia, "an·tah-ber·an·tah n Sas terdapat di dalam dunia khayal atau dongeng saja: negeri -- berantah, negeri yang tidak disebut (diketahui) nama dan tempatnya"


Dan "Antah Berantah", juga disebut sebuah istilah yang melambangkan tempat yang sangat terpencil, jauh dan sulit terjamah. Inilah kata yang tepat untuk Bouvet, pulau di dekat ujung selatan Bumi. Seperti yang dilansir detikTravel, Jumat (29/7/2016), 'World's 7 Most Dangerous and Remote Islands' yang artinya 7 pulau paling berbahaya dan terpencil di dunia. Salah satunya yang menarik dibahas adalah Pulau Bouvet. Di peta, Pulau Bouvet berlokasi di bagian selatan Samudera Atlantik. Berjarak 1.000 km dari Kutub Selatan, serta lebih dari 3.000 km dari daratan Argentina dan Afrika Selatan. Itu sudah cukup menjadikannya sebagai tempat terpencil di dunia dan tidak dihuni manusia.


Dari uraian tersebut, bisa ditarik benangnya, profesi wartawan bukan saja unik, namun juga mengandung resiko ketika masuk ke dalamnya. Bahkan, segudang aral yang melintang dihadapan seorang jurnalis tak bisa diprediksi, karena jurnalis ada di dunia "Antah Berantah". Namun, kehadiran para penggerak dan pelaku pelatihan jurnalis, yang memberikan prisai saat berada di "Antah Berantah" sangat membantu. Meskipun tak ada senjata penyerang, tetapi dengan tangkisan dan double cover, serta lentera, yakni "Kode Etik Jurnalistik", para jurnalis bisa melangkah tenang, meskipun tak ada jaminan tak cedera, tapi paling tidak sudah punya obor, dan tetap menggenggamya erat, agar tak terjatuh.


Menyusul banyaknya persoalan baru yang muncul di dunia "Antah Berantah", serta perkembangan teknologi sedemikian pesatnya, memang segala sesuatunya harus dipersiapkan. Hal ini yang dilakukan para ahlinya, seperti yang dilakukan sorang tokoh pers nasional, Kamsul Hasan, yang tak henti-hentinya menggelar Pendidikan Jurnalis, selagi ada biaya dan kesempatan.


Pelatihan yang paling anyar, Pelatihan Jurnalistik Sensitif Gender Angkatan 4 di Hotel Salak The Heritage Bogor, yang berlangsung selama 2 hari, (15-16/8/2018) yang melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi, di antaranya, IPB, PNJ, Polmed, IISIP, Esa Unggul, Budi Luhur, UNU Indonesia, Uhamka, sangat membantu, dan pantas diberikan apresiasi. Semoga individual yang ingin masuk ke dunia "Antah Berantah" sudah memiliki Peta dan Obor, yang akan membantunya kelak.


Namun, ada catatan kecil di saku, yang bersajak kegelisahan, bagaimana kelak, ketika setelah para "pejuang" pelatihan ini, seperti Kamsul Hasan, tak lagi bisa tampil di depan pesertanya, apakah ada penggantinya yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi?. Apakah keikutsertaan personel dari PWI DKI ke Pelatihan di Bogor, merupakan sebuah isyarat embrio, atau generasi bagi kelangsungan pelatihan di masa mendatang, itu memang harapan, dan bukan bentuk plesiran. Sehinga, kegilasahan di dada tak beralasan, selanjutnya liku-liku dunia "Antah Berantah" , selalu bisa diantisipasi.


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Pembangunan Kilang Nasional: Mari Lawan Mafia
Suara Kita
Karena lambatnya pembangunan kilang, saat melantik Nicke Widyawati menjadi Dirut Pertamina (29/8/2018, pemerintah meminta Perta...
​Kisah Eva dari Desa Lore Palu
Suara Kita
Tidak ada lagi senyum di wajah Eva (9). Ia hanya duduk lemas dengan tatapan kosong. Hiruk pikuk keriangan anak -anak lain saat ...
Sesak  Napas  Media Cetak   "Lawas"
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang ERA digital begitu cepat merubah, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia, terutama di bid...
​Merekonstruksi Peran BUMN Strategis Berdasarkan Konstitusi Ekonomi
Suara Kita
Pada tanggal 21 Agustus 2018, genap sudah 4 (empat) bulan 1 hari BUMN PT. (Persero) Pertamina dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt...
Kemelut PPDB  2018
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta, Red Sentana) Setiap tahun, salah satu kesibukan orangtua murid a...
Tolak Kesepakatan Kontrak Freeport yang Merugikan Negara!
Suara Kita
Indonesian Resources Studies (IRESS) menolak keras rencana pemerintah menyelesaikan negosiasi kontrak tambang Freeport bulan in...
Menelusuri Jejak Sejarah Pancasila
Suara Kita
Menjelang 73 tahun lahirnya Pancasila, dengan bantuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), saya dituntun untuk bertem...
Merekatkan Serpihan Indonesia Hebat
Suara Kita
Kesejahteraan adalah impian seluruh rakyat Indonesia.Negara melalui pemerintahan lah, yang bertugas membikin impian rakyat jadi...
Batalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018
Suara Kita
Presiden Joko Widodo perlu segera membatalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Migas yang Berakhi...