Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Pertamina Tak Perlu Latah Bangun SPBU Eceran Akar Rumput

18 Sep. 2017, 17.39.43

Pertamina Tak Perlu Latah Bangun SPBU Eceran Akar Rumput

Seiring dengan kemajuan tehnologi, hampir 90 persen dari penjual BBM eceran yang menggunakan botol sekarang sudah beralih menggunakan mesin pompa digital yang dilengkapi dengan nozzle yang mirip dengan SPBU.

Estimasi biaya untuk membuat pertamini dengan mesin pompa digital dengan 2 nozzle sangat beragam mulai dari Rp. 17 juta hingga Rp. 25 juta.

Saat ini untuk mendapatkan perangkat mesin pompa digital sangat mudah, beberapa pemilik SPBU ataupun pihak swasta lainnya telah menyediakan dan atau melakukan mitra kerjasama dengan penjual BBM eceran dan pihak lain yang ingin membuka usaha penjualan BBM eceran dengan perangkat modern.

Salah satu penjual BBM eceran di Kota Bandung mengatakan jika ada kenaikan pendapatan sebesar 50 persen ketika penjual BBM eceran dengan menggunakan mesin pompa modern dibandingkan dengan menggunakan botol. Bahkan kapasitas yang dijual juga meningkat, ketika masih menggunakan botol penjual bbm eceran hanya mampu menjual 30 - 50 liter per hari, saat ini bisa mencapai 100 liter lebih per hari.

Praktis dalam lima Tahun terakhir, keberadaan kios bbm eceran atau lebih dikenal dengan Pertamini sudah bertebaran di perkotaan dan pelosok daerah.

Kehadiran Kiosk bbm eceraneceran ini seakan menjadi anomali.

Dalam satu sisi kehadiran bbmeceran sangat membantu dalam menyalurkan BBM ke lokasi-lokasi yang belum di jamah PT Pertamina (Persero), disisi yang lain keberadaannya belum memiliki landasan hukum yang pasti bahkan dianggap bertentangan dengan UU Migas No.2 Tahun 2001 dan aturan BPH Migas No.6 Tahun 2015 tentang penyaluran jenis Bahan bakar minyak pada daerah yang belum terdapat penyalur. Tapi keberadaannya terus tumbuh subur hingga menyasar ke daerah-daerah yang selama ini sulit untuk mendapatkan BBM.

Seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, penjual BBM eceran dengan perangkat modern seperti oase di gurun pasir.

Jenis usaha baru penjualan BBM eceran secara modern telah menjadi booming ditengah masyarakat. Hampir di sudut-sudut pemukiman padat penduduk perkotaan hingga di pedesaan, kita dengan mudah menjumpai adanya SPBU eceran jenis ini. Peluang bisnis inipun akan membuka ceruk keuntungan yang menjanjikan, karena penjual secara langsung mendekati pasar yakni kantong-kantong masyarakat.

Begitu besarnya ceruk keuntungan yang didapatkan, banyak stakeholder ambil bagian tidak terkecuali Pertamina ikut latah pula, melalui anak perusahaannya telah bekerja sama dengan swasta untuk membangun kios mini bbm diseluruh Indonesia.

Bahkan BNI 46 telah menyediakan skema pembiayaan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha jenis ini. Tentu ini merupakan bisnis yang menggiurkan bagi banyak orang.

Secara Umum, Booming kios bbm eceran ini hampir mirip dengan kehadiran aplikasi mobile ojek online yang tumbuh secara agresif ditengah-tengah minimnya pelayanan transportasi publik yang memadai, nyaman, dan terjangkau yang menuai persoalan sampai sekarang. Pemerintah cenderung tak sanggup membendung kehadiran ojek online, bahkan larut makin kompleksnya persoalan dari hal prinsip regulasi, teknis hingga menimbulkan kemacetan baru.

Fenomena ini kelihatannya juga akan terjadi pada Kiosk bbm eceran, dimana sejauh ini belum ada satu regulasi yang mengatur secara keseluruhan usaha ini dari hulu hingga hillir.

Pemerintah gagap merespon dan cenderung lamban dalam melihat boomingnya Kios bbm eceran jenis ini. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada kepastian maka Pemerintah sama halnya sedang memelihara boom waktu.

Demikian juga dengan kios bbm eceran , Keberadaanya yang tidak dilengkapi dengan standart safety yang memadai, berada di tengah-tengah pemukiman penduduk_acapkali rentan terjadinya kebakaran. Sepanjang Tahun 2016 terdapat 23 kali terjadinya kebakaran Kios bbm eceran di seluruh daerah. Kemudian, mesin pompa digital sejauh ini belum ada sertifikasi nya atau lembaga mana yang seharusnya bisa memproduksinya. Jika bebas diperjualbelikan maka sangat rawan terjadinya praktek kecurangan seperti pengurangan ukuran dan bahkan sampai terjadinya BBM oplosan yang justru akan merugikan masyarakat.

Disamping mempersiapkan produk hukum maka langkah Pemerintah adalah pertama melakukan pendataan ulang terhadap Kiosk bbm eceren sebagai basis ekonomi akar rumput di semua wilayah dengan melibatkan seluruh stakeholder.

Pendataan ini sangat penting untuk mengetahu peta sebaran dan memberikan legalitas sebagai jenis usaha resmi yang akan memberikan kontribusi pajak negara. Kontrol model seperti ini akan memudahkan untuk mengetahui jika terjadi kecurangan dan sebagainya dilapangan. Kedua, melakukan pelatihan terhadap SDM dalam pengelolaan SPBU eceran, hal ini penting agar supaya ketika menghadapi kendala lapangan secara teknis mampu mengatasi.Ketiga, Sebaiknya "Pertamina" tidak latah masuk dalam usaha pembuatan "SPBU" eceren jenis ini, lebih baik melakukan kerjasama/mitra dengan hanya menyediakan/men-supplay BBM non subsidi (pertalite dan pertamax) yang harus dijual oleh SPBU eceran tersebut disemua wilayah.

Kios bbm eceran tergolong rawan masalah keselamatan lingkungan , kwalitas bbm dan takaran. Jika ini terjadi dan menimbulkan reaksi keras masyarakat maka ini akan merugikan citra pertamina walau pun bisnis kiosk eceran ini dilakukan oleh anak perusahaannya , masyarakat pasti melempar itu ke Pertamina.

Biarkan bisnis kios BBM eceran ini dikelola dan diusahakan sepenuhnya oleh pihak swasta yang bekerja sama dengan akar rumput masyarakat yang akan menggerakan roda perekonomian kelas bawah.

Oleh: Gigih Guntoro, Direktur Eksekutif Indonesian Club


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Belajar di Sekolah Swasta Bukan Kiamat
Suara Kita
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah negeri melahirkan suka bagi orang tua yang anaknya diterima dan menyisa...
​Dirut Pertamina: Harus Bebas Oligarki
Suara Kita
Menteri BUMN telah mengganti Dirut dan Wakil Dirut Pertamina tanpa alasan yang logis dan relevan pada awal Februari 2017.Keputu...
​Sosok Dirut Pertamina, Tantangan Bagi Pemerintah
Suara Kita
PERTAMINA sebagai perusahaan energi, pada dasarnya memerlukan dirut yang handal dan sudah terbukti menguasai bisnis migas.Pada ...
​Menanti Dirut Baru Pertamina
Suara Kita
Dalam beberapa tahun terakhir Direksi Pertamina sangat aktif mempromosikan rencana pengembangan korporasi sebagai perusahaan en...
​Jaring Dirut Pertamina Harus Obyektif dan Transparan
Suara Kita
PT Pertamina (Persero) sebagai holding BUMN sektor migas masih rentan terhadap intervensi dan cooptasi kepentingan elit politik...
Matahari Kembar Hanya Sebuah Isu
Suara Kita
Publik di negeri ini sangat tahu bahwa PT Pertamina (Persero) bukan satu-satuanya BUMN yang ada posisi Wakil Direktur Utama (Wa...
​Harga Premium dan Solar Subsidi Tak Naik, Pertamina Merugi Rp 2,9 T
Suara Kita
Sehubungan dengan trend kenaikan harga minyak mentah dunia berkisar diangak 52 USD – 55 USD per barrel untuk periode January 20...
Gubernur Maluku Tak Perlu Malu Belajar dari Anak Buah
Suara Kita
Kabupaten Buru Selatan (Bursel) sebagai salah satu kabupaten muda di Provinsi Maluku saat ini tumbuh cukup pesat. Di bawah kepe...
​Buruknya Manajemen di PLN
Suara Kita
Belum lama ini masyarakat dikagetkan oleh pernyataan Presiden Joko Widodo terkait dengan mangkraknya 34 proyek listrik yang men...