Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

Sesak Napas Media Cetak "Lawas"

12 Sep. 2018, 22.45.01

Sesak  Napas  Media Cetak   "Lawas"

Oleh Pangihutan Simatupang


ERA digital begitu cepat merubah, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia, terutama di bidang informasi. Dulu Surat Kabar, Radio dan Televisi, merupakan andalan utama untuk mendapatkan informasi yang dipercayai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun di era digitalisasi saat ini, dengan adanya media siber, dan bebasnya pengguna Medsos melemparkan dan mendapatkan informasi melalui smartphone, media lama mulai ditinggalkan, namun surat kabar atau koran yang menjadi pelengkap penderita utama.



Pemilik perusahaan media cetak mulai mencari solusi, yakni ada yang mengurangi oplahnya, bahkan ada yang harus tutup, karena memang itu yang terbaik, dan selanjutnya "ber-metamorfosis" ke Media Siber. Atau tetap bertahan dicetak dan juga memiliki online.


Dan menurut versi Dewan Pers, saat ini lebih dari 43 000 situs berita online di Indonesia. Hal ini selalu diungkapkan Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo. Jumlah yang mengagumkan, meskipun sebagian kurang sehat manajemennya. Ini kenyataan, persaingan tinggi di atas langit terus berlaga. Dunia maya, memang tanpa sayap, tapi link harus "bersayap".


Di balik itu, ada catatan yang harus digarisbawahi, masih ada Media Cetak "Lawas" yang berkiprah di tengah masyarakat dan pembaca setianya. Dalam kondisi sesak napas, masih tetap bisa ditemukan di lapak koran di ujung jalan di pojok kota, namun hari ini, Rabu (12/9/2018), tidak ada.


Media seperti ini, pasti memiliki pembaca fanatik yang tak akan berpaling selama media tersebut muncul dihadapan mereka. Malam masuk cetak, dan pagi berada di tangan pembacanya. Artinya tinggal bagaimana caranya untuk mempertahankan, agar tidak hilang dari pasaran. Tentu, dibutuhkan terobosan baru untuk mempertahankan eksistensi Media Cetak "Lawas", atau media cetak ini akan menjadi sebuah kenangan.

Penulis adalah Kepala SJI PWI DKI Jakarta



To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

​Kisah Eva dari Desa Lore Palu
Suara Kita
Tidak ada lagi senyum di wajah Eva (9). Ia hanya duduk lemas dengan tatapan kosong. Hiruk pikuk keriangan anak -anak lain saat ...
​Merekonstruksi Peran BUMN Strategis Berdasarkan Konstitusi Ekonomi
Suara Kita
Pada tanggal 21 Agustus 2018, genap sudah 4 (empat) bulan 1 hari BUMN PT. (Persero) Pertamina dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt...
Pelatihan  Jurnalis dan Dunia "Antah Berantah"
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI Prov. DKI Jakarta)Wartawan atau Jurnalis merupakan profesi yang unik, ini yang d...
Kemelut PPDB  2018
Suara Kita
Penulis: Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta, Red Sentana) Setiap tahun, salah satu kesibukan orangtua murid a...
Tolak Kesepakatan Kontrak Freeport yang Merugikan Negara!
Suara Kita
Indonesian Resources Studies (IRESS) menolak keras rencana pemerintah menyelesaikan negosiasi kontrak tambang Freeport bulan in...
Menelusuri Jejak Sejarah Pancasila
Suara Kita
Menjelang 73 tahun lahirnya Pancasila, dengan bantuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), saya dituntun untuk bertem...
Merekatkan Serpihan Indonesia Hebat
Suara Kita
Kesejahteraan adalah impian seluruh rakyat Indonesia.Negara melalui pemerintahan lah, yang bertugas membikin impian rakyat jadi...
Batalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018
Suara Kita
Presiden Joko Widodo perlu segera membatalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Migas yang Berakhi...
Kendala  Kecil   Pencegahan   Kekerasan  Terhadap  Anak
Suara Kita
Oleh Pangihutan Simatupang (Kepala SJI PWI DKI Jakarta/Red Sentana). TINDAKAN para "predator" anak sudah keterlaluan, sudah ...