Hubungi

(021) 660 39 00

hanya Rp. 75,000 per bulan

​Sosok Dirut Pertamina, Tantangan Bagi Pemerintah

15 Maret 2017, 0.13.49

​Sosok Dirut Pertamina, Tantangan Bagi Pemerintah

Jakarta, Sentananews.com

PERTAMINA sebagai perusahaan energi, pada dasarnya memerlukan dirut yang handal dan sudah terbukti menguasai bisnis migas.

Pada saat harga minyak anjlok seperti sekarang ini, Pertamina lebih membutuhkan nakhoda yang mampu melakukan terobosan yang bisa membuat laba BUMN tersebut semakin membesar, di atas laba tahun 2016.

Dirut Pertamina harus profesional dan menguasai penuh pengetahuan tentang bisnis Pertamina, memiliki leadership yang handal yang mampu menjadi perekat antar sesama insan Pertamina, serta berkemampuan manajerial yang handal.

Menempatkan orang untuk Dirut Pertamina tidak boleh dilakukan dengan coba-coba. Karena Pertamina adalah sebuah perusahaan yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat secara langsung. Selain itu, Dirut dan atau Direksi Pertamina juga harus pula mendapat support penuh dari seluruh pekerja Pertamina.

Kuatnya leadership Dirut, akan mampu menjaga kesatuan dan kebersamaan di Pertamina. Artinya Dirut harus orang yang diyakini mampu mempersatukan Direksi dan juga pekerja Pertamina.

Mengambil Dirut BUMN lain sebagai Dirut Pertamina juga akan sangat mudah mendapat penilaian dari masyarakat atau dari pekerja Pertamina.

Keberhasilan seorang Dirut BUMN apapun akan dinilai masyarakat dari keberhasilan memperoleh laba bumn yang dipimpinnya.

Pekerja BUMN apapun pasti akan memberi penilaian positif kepada Dirut yang terbukti mampu memberi laba signifikan kepada BUMN yang pernah dipimpinnya.

Ini harusnya menjadi pertimbangan utama bagi Presiden dan Menteri BUMN serta menteri terkait lainnya sehingga masyarakat tidak akan menilai pengangkatan Dirut Pertamina terkait dengan kepentingan politik atau kepentingan tertentu saja.

Karenanya untuk Dirut Pertamina jika diambil dari external maka harusnya diambil dari Dirut BUMN yang terbukti berhasil membukukan laba signifikan pada BUMN yang pernah dipimpinnya.

Jika ternyata pada tahun 2017 ini Pertamina menurun labanya dibanding tahun 2016 , maka yang akan jadi sorotan masyarakat adalah Pemerintah dan Presiden.

Ini akan mencederai kepercayaan publik terhadap presiden disamping berpengaruh pula terhadap penerimaan negara dari dividen yang disumbang Pertamina.

Disisi lain, keberadaan dan suara pekerja Pertamina harusnya didengar oleh pemerintah. Karena maju mundurnya Pertamina akan bergantung besar kepada peran pekerja Pertamina.

Mereka pernah "trauma" dengan isu matahari kembar yang dikembangkan di Pertamina dan ini harus jangan sampai terulang.

Kepemimpinan di Pertamina idealnya bisa membuat pekerja "happy" karenanya sosok Dirut Pertamina tidak boleh sosok yang tidak mereka harapkan karena ini akan melahirkan dukungan semu dan tidak maksimal.

Terpuruknya harga minyak dunia mau tidak mau harus ditutupi oleh Pertamina dengan terobosan bisnis lain yang bisa dikerjakan BUMN tersebut.

Artinya bisnis terobosan ini harus mendapat dukungan penuh dan solid sepenuh hati dari pekerja Pertamina dan tidak bisa mengandalkan kepada perintah semata yang bergantung kepada kewenangan direksi.

Tanpa dukungan yang solid dan all out, khususnya dari direktorat yang bisa difungsikan melakukan terobosan bisnis, maka harapan Pertamina bisa menyumbang pendapatan besar kepada negara hanya akan sebatas menjadi harapan belaka.

Berharap penerimaan Pertamina bergantung kepada penjualan minyak itu akan sulit terlaksana, karena besarnya laba dari penjualan minyak bergantung kepada besaran harga minyak dunia. Sepanjang harga minyak dunia masih seperti saat ini maka jangan pernah berharap penjualan minyak bisa menyumbang laba dan dividen yang besar bagi pemerintah. Dan ini sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangan pemerintah saat ini.

Memperbesar penerimaan dengan upaya menekan cost operasional Pertamina dengan efisiensi, juga nyaris tidak bisa dilakukan maksimal lagi. Karena efisiensi punya batas minimal dan itu nyaris sudah dilakukan pPrtamina di tahun 2015 dan 2016. Pemaksaan yang berlebihan terhadap efisiensi bisa jadi bumerang yang malah bisa membuat Pertamina tak berdaya.

Pemerintah harusnya ingat dan paham bahwa Pertamina sedang dibebani untuk menjalankan program yang memberi citra baik bagi pemerintahan Jokowi yakni BBM satu harga di seluruh negeri. Serta bagaimana mengurangi subsidi elpiji dan menjadikannya satu harga di seluruh tanah air.

Namun hal ini memerlukan sentuhan khusus dari nakhoda dan direksi Pertamina. Dan ini bisa terwujud dengan kerjasama yang solid dari seluruh insan Pertamina termasuk direksi yang ada yang notabene bukanlah pekerja Pertamina.

Artinya harus dipahami bahwa direksi Pertamina dan juga Dirut Pertamina harus mampu menempati relung hati terdalam dari pekerja Pertamina sehingga dukungan terhadap Direksi keluar dari lubuk hati mereka dan bukan bersandar kepada perintah belaka.

Ini maknanya bahwa Direksi harus diterima pekerja tanpa syarat sehingga mereka akan all out bekerja mendukung segala yang diinginkan pemerintah.

Sebagai BUMN strategis, maka sangatlah pantas jika pemerintah perlu berhati-hati dalam menempatkan nakhoda tertinggi di pertamina. Penempatan Dirut tidak boleh coba-coba atau uji coba kemampuan orang.

Pertamina harus mampu membuktikan memberikan sumbangan keuangan bagi pemerintah disamping menjalankan misi pemerintah dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.

Bersabar sedikit dalam menentukan Dirut Pertamina tetapi menghasilkan yang terbaik bagi negeri ini, bukanlah menjadi soal yang memberatkan bagi Presiden.

Oleh: Sofyano Zakaria

Pengamat Kebijakan Enerji dan Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi)


To add comments, you should login via Twitter or Facebook

Sign in via Twitter Sign in via Facebook

No comments yet.

Pertamina Tak Perlu Latah Bangun SPBU Eceran Akar Rumput
Suara Kita
Seiring dengan kemajuan tehnologi, hampir 90 persen dari penjual BBM eceran yang menggunakan botol sekarang sudah beralih mengg...
Belajar di Sekolah Swasta Bukan Kiamat
Suara Kita
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah negeri melahirkan suka bagi orang tua yang anaknya diterima dan menyisa...
​Dirut Pertamina: Harus Bebas Oligarki
Suara Kita
Menteri BUMN telah mengganti Dirut dan Wakil Dirut Pertamina tanpa alasan yang logis dan relevan pada awal Februari 2017.Keputu...
​Menanti Dirut Baru Pertamina
Suara Kita
Dalam beberapa tahun terakhir Direksi Pertamina sangat aktif mempromosikan rencana pengembangan korporasi sebagai perusahaan en...
​Jaring Dirut Pertamina Harus Obyektif dan Transparan
Suara Kita
PT Pertamina (Persero) sebagai holding BUMN sektor migas masih rentan terhadap intervensi dan cooptasi kepentingan elit politik...
Matahari Kembar Hanya Sebuah Isu
Suara Kita
Publik di negeri ini sangat tahu bahwa PT Pertamina (Persero) bukan satu-satuanya BUMN yang ada posisi Wakil Direktur Utama (Wa...
​Harga Premium dan Solar Subsidi Tak Naik, Pertamina Merugi Rp 2,9 T
Suara Kita
Sehubungan dengan trend kenaikan harga minyak mentah dunia berkisar diangak 52 USD – 55 USD per barrel untuk periode January 20...
Gubernur Maluku Tak Perlu Malu Belajar dari Anak Buah
Suara Kita
Kabupaten Buru Selatan (Bursel) sebagai salah satu kabupaten muda di Provinsi Maluku saat ini tumbuh cukup pesat. Di bawah kepe...
​Buruknya Manajemen di PLN
Suara Kita
Belum lama ini masyarakat dikagetkan oleh pernyataan Presiden Joko Widodo terkait dengan mangkraknya 34 proyek listrik yang men...