Menu

Dark Mode
Lapas Narkotika Jakarta Gagalkan Penyelundupan 12 Paket Narkoba dalam Oseng Cumi YARA Minta KPK Ambil Alih Dugaan Korupsi Beasiswa Aceh, Nama Bupati Aceh Timur Disorot Kasus Dugaan Perselingkuhan Seret Nama Bupati Aceh Timur ke Mabes Polri Rutan Bandung Perketat Pengawasan, Ancam Sanksi Napi yang Simpan Ponsel dan Terlibat Narkoba Mantan Ketua Himapol Dukung Pengesahan RUU Polri Ormas se-Madiun Raya Nyatakan Dukungan untuk Prabowo, Siap Kerahkan Ribuan Relawan

Megapolitan

Diintimidasi Mafia Kios, Pedagang Pramuka Rugi Puluhan Juta

badge-check


					Diintimidasi Mafia Kios, Pedagang Pramuka Rugi Puluhan Juta Perbesar

SENTANANEWS.COM, Jakarta – Kisruh di Pasar Pramuka, Jakarra Timur, makin lama makin panas, bahkan panasnya sampai bikin kompor dapur kalah.

Pasalnya para pedagang obat di pasar itu mengaku digertak, ditodong mental, bahkan diintimidasi oleh gerombolan yang diduga mafia kios.

Pedagang dipaksa tutup toko, imbasnya merela tekor puluhan juta. Yang dagang jadi korban, yang ngaku-ngaku perwakilan malah ngatur seenaknya.

Dalam video viral unggahan @warungjurnalis, terlihat seorang pedagang berbaju putih cuma bisa pasrah ketika dua pria berbaju merah datang seperti debt collector ketinggalan target.

Yang satu ngelihatin tajam, yang satu lagi gaya sok jagoan. Pedagang lain cuma nonton, takut kena imbas, sampai akhirnya pria berjaket merah berusaha melerai.

Salah satu pedagang yang ikut kena dampak intimidasi, LT (37) bilang kejadian itu pecah saat kelompok yang mengatasnamakan diri “tim 15” memaksa semua toko tutup pada Kamis (13/11).

Alasannya: solidaritas menolak revitalisasi pasar. Kenyataannya: pedagang malah gulung kerugian.

“Kita lagi rame pesanan, malah dipaksa tutup. Rugiya bukan recehan. Puluhan juta hilang begitu aja,” ujar LT, seperti menahan kesal yang sudah naik ke ubun-ubun.

LT bilang sudah lima tahun ia berdagang di sana, tapi baru kali ini merasakan pasar serasa punya faksi tertentu.

Yang menolak revitalisasi disebutnya bukan pedagang asli, tapi kelompok yang ingin mempertahankan “zona nyaman” mereka.

“Kami pedagang justru dukung revitalisasi. Biar pasarnya bagus, pembeli nyaman. Yang ribut-ribut itu malah bikin kami kehilangan pemasukan,” kata LT.

Para pedagang berharap bisa jualan lagi tanpa diatur-atur oleh pihak yang merasa paling berkuasa. Pasar seharusnya tempat cari nafkah, bukan arena intimidasi berkedok solidaritas.

Jika drama ini berlanjut, bukan cuma pedagang yang rugi—tapi nama besar Pasar Pramuka bisa hilang digilas mafia-mafiaan yang makin hari makin liar. (SN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Lapas Narkotika Jakarta Gagalkan Penyelundupan 12 Paket Narkoba dalam Oseng Cumi

25 June 2026 - 06:49 WIB

Rutan Bandung Perketat Pengawasan, Ancam Sanksi Napi yang Simpan Ponsel dan Terlibat Narkoba

19 June 2026 - 06:02 WIB

MA Insan Cendekia Nusantara Resmi Berdiri, Cetak Generasi Berakhlak dan Mendunia

6 June 2026 - 14:07 WIB

Pencurian Kabel PJU Kian Marak, Satgas Tangkap Pelaku di Basura

1 June 2026 - 09:51 WIB

PT Antam Tebar 20 Hewan Kurban untuk Warga dan Stakeholder Jakarta Timur

26 May 2026 - 05:34 WIB

Trending on Megapolitan