SENTANANEWS.COM, Jakarta – Rak-rak kaca memenuhi sudut rumah Muhammad Dzuljabbar di kawasan Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur.
Di balik pintu bening itu berjajar ribuan action figure, robot, hingga mobil-mobilan die-cast dari berbagai era. Batman berdiri berdampingan dengan RoboCop, sementara Hot Wheels dan Matchbox memenuhi sisi lain ruangan seperti showroom mini.

Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin hanya mainan anak-anak. Namun bagi Jabbar, 31 tahun, koleksi tersebut adalah gabungan antara nostalgia, obsesi, dan investasi bernilai tinggi.
“Dari kecil memang suka mainan superhero dan mobil-mobilan. Dulu ibu sering beliin, lama-lama jadi kebiasaan sampai sekarang,” kata Jabbar saat ditemui dikediamannya pada Sabtu, (23/5).
Hobi itu berubah serius sejak 2019. Awalnya ia hanya membeli karakter favorit dari DC Comics dan Marvel. Namun perlahan, perburuan koleksi berubah menjadi rutinitas harian.
Ia mulai masuk komunitas kolektor, mengikuti forum jual beli daring, hingga berburu barang impor dari Amerika Serikat, Jepang, dan Cina.
Kini jumlah koleksinya mencapai ribuan unit. Nilainya pun tak main-main. Ada yang dibeli puluhan ribu rupiah, tetapi ada pula figur langka yang harganya menembus Rp10 juta.
Di tengah derasnya budaya pop dan film superhero, action figure tak lagi sekadar pajangan. Barang-barang itu berubah menjadi komoditas dengan nilai ekonomi tinggi. Semakin langka sebuah karakter, semakin mahal pula harganya.
“Kalau barang sudah tidak diproduksi, biasanya diburu kolektor. Harganya bisa naik terus,” ujar Jabbar.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Industri action figure tumbuh besar sejak perusahaan mainan asal Amerika Serikat, Hasbro, mempopulerkan GI Joe pada 1960-an.
Ledakannya terjadi pada era 1980-an ketika serial kartun seperti Transformers, Teenage Mutant Ninja Turtles, hingga He-Man membanjiri televisi.
Generasi yang tumbuh bersama kartun-kartun itu kini telah dewasa dan memiliki daya beli sendiri.
Mereka kembali memburu tokoh masa kecil yang dulu hanya bisa dipandangi di etalase toko. Nostalgia menjadi mesin utama industri koleksi mainan.
“Orang dewasa itu sebenarnya tetap anak kecil, cuma mainannya lebih mahal,” kata Jabbar sambil tertawa.
Di Indonesia, geliat kolektor semakin terasa sejak media sosial berkembang. Facebook dan marketplace membuat transaksi mainan koleksi bergerak sangat cepat.
Grup komunitas menjadi arena berburu barang langka sekaligus tempat para kolektor saling adu cepat.
“Kalau ada barang bagus di grup, hitungannya siapa cepat dia dapat,” ujarnya.
Tak jarang transaksi berlangsung tanpa tatap muka. Ada pembeli yang langsung mentransfer uang meski barang baru dikirim beberapa minggu kemudian. Kepercayaan antar kolektor menjadi modal utama.
Pandemi Covid-19 justru menjadi masa keemasan bagi sebagian pehobi. Saat masyarakat lebih banyak berada di rumah, aktivitas berburu mainan meningkat tajam.
Kolektor memanfaatkan waktu luang untuk memperluas koleksi sekaligus mencari peluang cuan.
Jabbar termasuk yang aktif berburu kala itu. Ia mengoleksi figur Godzilla, Buzz Lightyear, Woody, hingga mobil-mobilan Hot Wheels dan Matchbox. Sebagian didapat dengan harga murah dari penjual yang tidak mengetahui nilai barangnya.
Salah satu temuannya adalah figur Space Jam bertema legenda basket Michael Jordan. Ada pula miniatur Elizabeth Bathory, tokoh bangsawan Hungaria yang dikenal dalam sejarah Eropa.

Awalnya ia membeli barang itu sekadar tertarik bentuknya. Namun setelah mencari tahu latar belakang karakter dan harga pasarnya, ia sadar benda tersebut bernilai jauh lebih tinggi.
“Di situ saya mulai berpikir, ternyata koleksi mainan bisa jadi investasi juga,” katanya.
Di kalangan kolektor, istilah “rare item” menjadi kata sakral. Mainan yang diproduksi terbatas atau sudah discontinue biasanya mengalami kenaikan harga signifikan.
Bahkan, beberapa jenis tin toys atau mainan berbahan pelat logam lawas kini dihargai puluhan juta rupiah.
Meski replika modern terus bermunculan, kolektor tetap memburu versi orisinal. Alasannya bukan hanya soal kualitas, tetapi juga nilai sejarah.
“Yang dicari itu rasa nostalgianya,” ujar Jabbar.
Namun dunia koleksi juga menuntut kesabaran dan ketelitian. Tidak semua mainan otomatis menjadi investasi. Kolektor harus memahami sejarah karakter, jumlah produksi, hingga tren pasar.
Karena itu, berburu action figure bagi Jabbar bukan sekadar belanja impulsif. Ia menganggap hobinya sebagai perpaduan antara kecintaan pada budaya pop dan membaca peluang ekonomi.
Hingga kini, ia belum berniat menjual koleksi pribadinya. Baginya, setiap mainan menyimpan cerita masa kecil yang sulit diganti uang.
Meski demikian, ia sadar rak-rak kaca di rumahnya bukan lagi sekadar tempat menyimpan mainan. Di dalamnya tersimpan aset yang nilainya bisa terus bertambah seiring waktu.
Di era ketika nostalgia bisa diperjualbelikan, action figure telah menjelma lebih dari sekadar mainan. Ia menjadi simbol identitas generasi, sekaligus ladang bisnis yang terus hidup dari kenangan masa kecil. (SN)









