SENTANANEWS.COM, Jakarta – Utusan Khusus Presiden RI sekaligus Komandan Tim Khusus 08, Fauka Noor Farid, membantah anggapan bahwa Presiden Prabowo Subianto menghina profesi wartawan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) melalui pidatonya dalam peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (23/7)
Fauka mengatakan pernyataan Prabowo yang menyebut “Londo Ireng” kini berkamuflase menjadi wartawan dan LSM bukan ditujukan untuk merendahkan profesi jurnalistik maupun kelompok masyarakat sipil.

Menurut dia, pernyataan itu dimaksudkan untuk menjelaskan modus intelijen asing yang bekerja dari balik layar dengan menyamar sebagai kelompok tertentu.
“Intelijen asing itu kalau mau mencari informasi di suatu negara, penyamaran yang paling mudah dengan menjadi jurnalis dan LSM,” kata Fauka di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (24/7)
Fauka menjelaskan, jurnalis memiliki akses luas untuk masuk ke lingkungan pemerintahan, masyarakat, dan berbagai sumber informasi.
Akses tersebut, menurut dia, kerap dimanfaatkan agen intelijen yang menyamar sebagai wartawan untuk mengumpulkan informasi tentang suatu negara atau isu tertentu.
Karena itu, ia menilai pernyataan Prabowo tentang “Londo Ireng berganti baju” seharusnya dipahami sebagai penjelasan mengenai strategi penyamaran intelijen asing, bukan penghinaan terhadap wartawan.
“Jurnalis bisa masuk ke mana-mana, dijadikan cover. Sementara kalau cover LSM itu digunakan untuk menyerang pemerintah, dengan alasan memperjuangkan rakyat,” ujarnya.
Fauka menambahkan, agen intelijen yang menyamar sebagai LSM dapat melontarkan kritik terhadap pemerintah dengan dukungan pendanaan tertentu.
Namun, ia menegaskan pernyataan Prabowo tidak ditujukan kepada wartawan atau media yang terdaftar di Dewan Pers maupun LSM yang terdaftar di pemerintah.
Mantan anggota BAIS TNI dan Tim Mawar itu mengatakan dunia intelijen memiliki banyak pilihan penyamaran, tetapi profesi jurnalis dan LSM kerap berada di antara opsi yang digunakan.
“Presiden Prabowo sangat menghormati kerja wartawan dan peran LSM dalam membangun bangsa. Jadi tidak ada satu pun tendensi sedikit pun ke arah merendahkan,” tuturnya.
Pidato Prabowo dalam peringatan Harlah PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026, sebelumnya menuai beragam komentar publik.
Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah “Londo Ireng”, yang merujuk pada orang-orang Afrika Barat yang direkrut Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.
Prabowo menggunakan istilah itu untuk menyindir kelompok yang, menurut dia, membantu pihak asing menyebarkan narasi pesimistis mengenai kemampuan Indonesia menjadi negara maju.
“Sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu. Pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, ‘Yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?’” kata Prabowo (SN)








