Oleh: Muhammad Senanatha
Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI
Pembangunan kerap diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau besarnya anggaran yang terserap. Ukuran itu penting, tetapi tidak cukup.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pembangunan mampu membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan.
Konstitusi telah memberikan arah yang jelas. Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial.
Dengan demikian, pembangunan semestinya tidak berhenti pada pencapaian angka-angka ekonomi, melainkan menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat bagi warga negara.
Pemikiran HOS Tjokroaminoto melalui Sosialisme Islam menawarkan perspektif yang masih relevan. Negara tidak cukup berperan sebagai administrator pemerintahan atau penyalur bantuan sosial.
Negara harus menjadi instrumen yang membuka akses masyarakat terhadap pendidikan, pekerjaan, modal usaha, dan kesempatan ekonomi yang adil.
Dalam pandangan itu, kemiskinan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan terbatasnya kesempatan.
Karena itu, tugas negara bukan hanya mengurangi beban masyarakat, tetapi memperluas kemampuan mereka agar dapat berdiri di atas kekuatan sendiri.
Pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang melahirkan ketergantungan, melainkan kemandirian.
Berbagai program pemerintah untuk memperkuat gizi masyarakat, memperluas akses pendidikan, memberdayakan ekonomi desa, memperkuat ketahanan pangan, hingga menyediakan hunian layak patut diapresiasi sebagai bagian dari investasi pembangunan manusia.
Namun, efektivitas pembangunan tidak hanya diukur dari jumlah program ataupun besarnya anggaran, melainkan dari dampaknya terhadap perubahan kualitas hidup masyarakat.
Tantangan pembangunan manusia masih besar. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 1 April 2026 menunjukkan masih terdapat 3.966.858 anak yang tidak bersekolah.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa akses pendidikan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah.
Selama jutaan anak belum memperoleh kesempatan belajar yang layak, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya tercapai.
Karena itu, pembangunan perlu kembali menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan.
Program pemerintah seharusnya tidak hanya menghasilkan penerima manfaat, tetapi juga melahirkan warga negara yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki daya saing.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Ia menjelaskan bahwa kemajuan sebuah peradaban bergantung pada kualitas manusianya.
Kekayaan alam, kekuatan ekonomi, maupun kekuasaan politik tidak akan bertahan tanpa masyarakat yang berilmu, produktif, dan memiliki solidaritas sosial.
Pandangan itu memperkuat gagasan HOS Tjokroaminoto bahwa pendidikan, keadilan ekonomi, dan pembangunan karakter merupakan fondasi kemajuan bangsa.
Negara yang berhasil bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan nasional, tetapi juga memperluas kesempatan rakyat untuk berkembang melalui pendidikan, pekerjaan, dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi.
Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju. Bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan posisi strategis merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.
Namun, seluruh potensi itu hanya akan bernilai apabila pembangunan benar-benar diarahkan pada peningkatan kualitas manusia.
Karena itu, setiap kebijakan pembangunan harus saling menopang. Program perlindungan sosial perlu berjalan seiring dengan perluasan akses pendidikan.
Pertumbuhan ekonomi harus diikuti pemerataan kesempatan. Pembangunan infrastruktur harus dibarengi pembangunan sumber daya manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari banyaknya proyek yang selesai atau besarnya anggaran yang dibelanjakan.
Ukurannya adalah seberapa banyak warga negara yang memperoleh kesempatan untuk hidup lebih baik, lebih mandiri, dan lebih bermartabat.
Di situlah pembangunan menemukan makna yang sesungguhnya: bukan hanya membangun negara, tetapi juga memerdekakan manusia.









