SENTANANEWS.COM, Jakarta – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil langkah tegas dengan mempertimbangkan penghentian penugasan pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Menurut SBY, kondisi di lapangan saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan mandat awal misi perdamaian.

Ia menilai, eskalasi konflik yang meningkat membuat pasukan penjaga perdamaian, termasuk dari Indonesia, berada dalam situasi yang sangat berbahaya.
“Atas dasar itu, PBB harus segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” tulis SBY dalam akun resminya di media sosial X, Minggu (5/4)
Ia menegaskan, pasukan peacekeeper tidak dipersenjatai untuk menghadapi pertempuran aktif. Oleh karena itu, keberadaan mereka di wilayah yang kini telah menjadi zona konflik dinilai tidak lagi relevan dengan mandat “peacekeeping”.
“Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi peacekeeper karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung,” tegasnya.
SBY juga menekankan pentingnya sikap tegas dari PBB dalam merespons situasi tersebut, termasuk melalui forum tertinggi organisasi dunia itu.
“Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda,” tegasnya.
Dilaporkan sebelumnya, tiga personel penjaga perdamaian Indonesia tewas saat menjalankan tugas pada United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Ketiganya adalah Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon. (SN)









