SENTANANEWS.COM, Jakarta – Perang kognitif menjadi tantangan baru di tengah perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik.
Medan perang kini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah fisik, tetapi juga upaya memengaruhi pikiran dan cara pandang manusia.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Feri Yunaldi mengatakan, perang kognitif telah berkembang melampaui perang informasi yang selama ini dikenal melalui operasi ofensif dan defensif.
“Sekarang, perang kognitif sudah masuk lebih jauh ke dalam pikiran manusia,” kata Feri kepada awak media di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (29/10).
Menurut Feri, perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi TNI Angkatan Udara, khususnya dalam menjalankan tugas penerangan di tengah derasnya arus informasi. Kecepatan penyebaran informasi membuat suatu peristiwa dapat menjadi viral hanya dalam hitungan detik.
Ia menilai, kondisi tersebut menuntut penguatan sinergi antara Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara dan insan pers untuk menjaga ketepatan informasi sekaligus menangkal hoaks dan disinformasi.
Feri mengatakan, setiap pihak memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu, kecepatan publikasi perlu diimbangi dengan verifikasi agar informasi yang beredar tidak menimbulkan dampak negatif.
“Kecepatan adalah keunggulan, sedangkan ketepatan dan kebenaran informasi merupakan keharusan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Dispenau terbuka untuk berkolaborasi dengan media dalam menyampaikan informasi mengenai kegiatan dan operasi TNI Angkatan Udara.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap tugas dan kemampuan matra udara.
Menurut Feri, karakteristik operasi TNI Angkatan Udara yang berlangsung di ruang udara membuat sebagian proses kerja dan latihan personel belum banyak diketahui publik.
Karena itu, kata dia, edukasi melalui media diperlukan agar masyarakat memahami proses pembentukan personel hingga kesiapan operasional.
Ia berharap hubungan dengan media tidak hanya terbatas pada kemitraan profesional, tetapi juga dibangun melalui komunikasi terbuka, kepercayaan, dan saling menghargai.
“Saya ingin hubungan dengan media tidak hanya sebatas hubungan kerja atau kemitraan, tetapi juga hubungan kekeluargaan yang dilandasi sikap saling menghargai, saling percaya, saling menghormati, dan saling membantu,” ujar Feri.
Feri menambahkan, masukan dari awak media diperlukan untuk memperbaiki penyampaian informasi institusi.
Ia juga membuka ruang bagi media untuk menyampaikan kritik terhadap pemberitaan maupun materi publikasi Dispenau.
“Saya juga memohon masukan jika ada hal yang kami sajikan kurang tepat. Misalnya, rekan-rekan bisa menyampaikan, Kadis, beritanya kurang pas atau gambarnya kurang tepat. Kami akan menerima masukan tersebut dengan senang hati,” katanya. (SN)














