SENTANANEWS.COM, Jakarta – Tawuran dan penyebaran hoaks menjadi ancaman bagi masa depan pelajar. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kelompok Kerja Wali Kota Jakarta Selatan mengajak 200 duta sekolah membangun karakter, menjaga persatuan, dan lebih bijak menggunakan media sosial melalui dialog interaktif dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Kegiatan bertajuk Dialog Interaktif Wawasan Kebangsaan, Pencegahan Tawuran dan Berita Hoaks itu berlangsung di Ruang Rapat Antasari, Gedung C, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu (28/10).
Selain pelajar, acara tersebut melibatkan unsur pemerintah, TNI, insan pers, tenaga pendidik, serta perwakilan sekolah.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo mengatakan wawasan kebangsaan penting ditanamkan kepada generasi muda di tengah perkembangan globalisasi dan teknologi informasi.
Ia juga menekankan peran pers dalam menyampaikan informasi secara profesional dan berimbang untuk mendukung upaya pencegahan tawuran.
“Sebagai insan pers memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya kita untuk terus mempertahankan agar persatuan dan kesatuan negara ini terus berlanjut,” kata Syafrin.
Ketua PWI Pokja Wali Kota Jakarta Selatan Joni Matondang mengatakan wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendidik masyarakat, termasuk kalangan pelajar.
Menurut dia, generasi muda dapat berkontribusi bagi bangsa melalui prestasi dan perilaku positif, tanpa terlibat tawuran atau menyebarkan informasi yang memecah belah.
“Kita tidak mesti harus panggul senjata untuk berkarya untuk bangsa. Cukup melakukan hal-hal yang baik, menciptakan prestasi dengan tidak meneruskan informasi hoaks dan bersifat menghasut,” ujar Joni.
Dari unsur TNI, Pasiter Kodim 0504/Jakarta Selatan Mayor Inf. Dicson Abislom menekankan pentingnya pembentukan karakter sejak dini.
Pelajar, menurut dia, perlu memiliki kemampuan untuk membedakan pengaruh positif dan negatif agar tidak mudah terbawa lingkungan yang merugikan.
Sementara itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan Manusia, Dicky Krishnawardana, mengingatkan bahwa tawuran tidak memberikan manfaat bagi pelajar.
Selain berisiko menimbulkan korban, tindakan tersebut dapat merusak masa depan dan mengganggu kesempatan memperoleh bantuan pendidikan.
“Keuntungan tidak ada. Yang jelas, masa depan mereka yang akan dirugikan,” kata Dicky.
Ketua PWI Provinsi DKI Jakarta Kesit Budi Handoyo turut mengingatkan pelajar agar lebih cermat menyaring informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ia menjelaskan sejumlah ciri informasi yang patut dicurigai sebagai hoaks, antara lain judul provokatif, sumber yang tidak jelas, penggunaan bahasa yang buruk, serta ajakan untuk segera membagikan pesan.
Kesit juga mencontohkan kabar yang beredar pada Maret 2026 mengenai penutupan YouTube, TikTok, Facebook, dan Instagram pada 28 Maret. Informasi tersebut tidak tepa
“Karena kebijakan yang dimaksud berkaitan dengan pembatasan akses akun anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi, bukan penutupan seluruh layanan media sosial.
Melalui dialog tersebut, PWI Jaksel berharap pelajar semakin kritis dalam menerima informasi dan mampu menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik.
Semangat Sumpah Pemuda diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga diwujudkan melalui prestasi, sikap bertanggung jawab, dan kepedulian terhadap persatuan.
Kegiatan ini diikuti 200 duta sekolah tingkat SMA dan sederajat serta 65 tamu undangan.
Sejumlah pihak turut hadir, di antaranya Kesbangpol Jakarta Selatan, Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Bank Jakarta, Baznas Bazis Jakarta Selatan, orang tua, guru, dan perwakilan sekolah. (SN)














